Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Putri Kuda Dan Kutu Banjj


SOSOK itu melangkah di keremangan senja. Tubuhnya tinggi semampai dan ramping. Langkahnya bergetar bagai puisi. Gaun putihnya yang panjang selutut, menyisakan bagian pundak yang terbuka. Kulit putihnya berkilat ditimpa sisa cahaya matahari. Angin semilir menyibak sebagian rambut yang menutupi wajahnya. Leher jenjangnya yang indah sesekali terlihat. Kakinya yang panjang menopang betis yang indah bak bulir padi, lidah ombak pantai meningkahi, menjilati ujung gaun dan kakinya yang telanjang. Sementara sepasang merpati putih terbang rendah di kiri-kanannya. Seolah-olah mengawalnya. Tangannya perlahan menyibak rambut, tampak samar terpancar keelokan parasnya. O, sosok yang memancarkan cahaya hidup. Namun entah apa yang terjadi setelah senja tiada ternyata gadis itu berubah berkaki kuda.

Ia tahu, masih harus menunggu jam-jam terlewati hingga malam tiba, jadi Putri Kuda terduduk lagi di sisi daratan. Dengan jarum rajutnya, dia terombang-ambing angin. Bukan ingin—nya mempunyai kaki Kuda. Dia pergi dari istana lantaran adik tirinya mengetahui, saudaranya berkaki Kuda. Kejadian itu sangat menggegerkan Istana. Raja sebenarnya sudah tahu sejak Putri Kuda lahir, mungkin ini memang kesalahannya, karena ketika Istri Raja hamil dia meminta Raja berburu dan ingin makan daging kuda. Untuk memenuhi istri tercinta sang Raja—pun pergi  kehutan, dan kemudian terlihatlah sekelompok kuda yang sedang memakan rumput. dengan kejelian berkat matanya  dalam sekejap ia dapat melumpuhkan apa yang dicari, anak panah lepas dari busur tepat pada sasaran Kuda yang sedang melahirkan. Tetes air mata pun tak membasahi Sang Raja, tak terkecuali juga Kuda itu sangat deras mengalir jerit dan tangisnya.

Dengan sangat bangga, Raja pulang membawa hasil buruanya untuk disantap Sang Istri. Setelah memakan daging Kuda, Istri Raja merasa mulas dan meringis kesakitan sembari mengelus-elus perutnya. Serontak Raja menyuruh pengawal untuk memanggil Tabit dan membawa dihadapannya untuk mengobati Sang Istri. Sebelum Tabit datang terdengarlah suara jeritan bayi dan Sang Istri. Raja—pun datang menghampiri, betapa terkejut, ketika melihat anaknya berkaki kuda, sedangkan Sang Istri—tak kuasa menahan sakitnya  hingga akhirnya meninggal dunia.

Raja memberi nama anaknya Greeta, lalu di bawalah bayi itu keterasingan, Di hutan yang tak pernah di jelajahi oleh manusia, di situlah ia tumbuh besar bersama pengasuhnya yang kian rentah. Sesekali Raja berkunjung hanya cuman melihat saja tak pernah bercakap atau tatap muka namun ketika Raja melihat kecantikan anaknya ada rasa iba menyelinap dalam jiwanya. Dan Ia—pun tahu anak itu akan berubah kakinya menjadi kuda ketika malam hari. Sang Raja membawa Greeta ke Istanah setelah Ia tahu hidupnya hanya seorang diri di hutan karena pengasuhnya meninggal dunia.

“Ada sisi yang memang akan dibiarkan gelap oleh seseorang sepanjang hidupnya. Bukankah rembulan pun juga malu menunjukkan separuh badannya yang gelap selepas purnama?”  Tentunya Sang Raja memperkenalkan anaknya kepada penghuni Istana. Dia sangat menjaga dan selalu berhati-hati agar tak seorangpun tahu tentang rahasia ini termasuk kepada istri  yang ke 2 dan anaknya. Namun tak berselang waktu lama Greeta tinggal di istana, lantara saudara tirinya mengetahui bahwa dia berkaki Kuda! Dan dia—pun meninggalkan istana. Setelah saudaranya menfitnah dan mengejeknya.

*****

Entah berapa lama Greeta terpekur di beranda. Ketika senja, Ia melebur bersama sunyi yang sejuk. Matanya menyapu pematang sawah di depannya. Sejauh jala mata memandang, apa-apa dijeratnya. Seekor bangau mengirap sembari melengking. Lengkingannya terdengar serupa ratapan. Sebab, tanah lumpur kering membentang luas. Tak ada mangsa sejenis katak, ikan atau pun serangga air lainnya. Seonggok pohon randu, satu-satunya, tegak berdiri di tengah sesawahan. Dedaunan tampak jarang menghuni dahan pohon. Kekekeringan telah menyesap hijau dedaunan menjadi kecoklatan. Beberapa buah kapuk randu menggantung di reranting. Kulitnya yang hitam sebagian masih mengatup. Sebagian lagi telah rekah. Greeta memaku pandang pada pohon randu. Didapatinya gumpalan putih meletik dari kulit yang retak. Angin yang berhembus menerbangkannya jauh-jauh. Sedang sisa dedaunan sekarat. Melayang-layang. Jatuh tertampa tanah kering berserabut. Serabut-serabut itu bercabang dan membentuk retakan besar di beberapa ujungnya. Masih digenggamnya tilas kenangan semasa kecil bersama  Nenek Wensae yang mengasuhnya sedari bayi.

Ada suara memecahkan lamunan Greeta. Dia telah berada di punggungnya. Entah sejak kapan Banjj berhinggap di belakangnya melangkah mendekat. Lantas di pipinya.

“Sesaat, ketika ada yang merintik pelan-pelan di secangkir kopimu yang sudah mulai dingin itu ‘hujan’ katamu. Itu aku yang mencoba menabrak kaca jendelamu. menari berputar bersama angin yang ingin, menyampaikan sebuah pesan yang semoga tak akan terlambat datang. ‘tersenyumlah—berbahagialah’ Putri.”

“Siapa kamu?” sembari berdiri dan meletakan Banjj ditangan

“Namaku Banjj ... Kutu Banjj, aku seekor Kutu ajaib yang akan membuatmu tersenyum Tuan Putri, dan akan mengabulkan apa yang menjadi inginmu.”

“Baiklah Banjj, sekarang kita bersahabat.” Dengan seutas senyum arismetiknya terlontar.


“Benarkah?” Banjj melopat-lompat kegirangan.

“Ketika senja ini, ada selaksa haru yang labuh. memeluk gaduh sebaris kalimat yang kaubangun dengan segenap sungguh. Seperti mengemasi sisa hujan di atap-atap yang berkarat, kau riuh. Menarikku berdansa bersama kata yang tak sekadar kata-kata; menjelma kita, Terimakasih Kutu Banjj.”

*****

Ia melangkah anggun menyelusuri pantai. Mengenakan gaun terusan tanpa lengan dan berleher rendah, warnanya yang merah kontras dengan warna kulit yang putih bersih. Rambutnya yang hitam legam panjang sebahu, ujung-ujung rambutnya berayun, seperti berebut ingin menyentuh bahu pualam itu. Sementara itu kakinya yang jenjang menampilkan betis yang ramping karena gaunnya hanya sebatas lutut dan sandalnya yang berhak tinggi memperlihatkan ujung tumitnya. Parasnya nyaris tanpa make up, kecuali warna merah menyapu bibirnya. Sembari bercanda tawa dengan sahabatnya Kutu Banjj, kini tak lagi seorang diri setidaknya walaupun mempunyai sahabat seekor Kutu namun kesunyian yang meraja Putri Greeta bisa terobati. Tak ada lagi dibenaknya hanya satu ia ingin menjadi manusia normal dan kelak menjadi sang pemimpin menggantikan sang Ayah.

Perempuan berkaki Kuda itu pun kemudian larut dalam tangisnya. Sementara itu, ada seorang pria, seperti dalam perjalanan jauh, dipanggilnya  Jul, oleh salah satu temanya. Iya, mereka melakukan perjalanan menyelusuri pantai hanya bertiga. Mungkin mereka seorang nelayan yang sengaja singgah di tepi pantai tempat biasa Greeta mengusir sunyi dan menyendiri karena semayamnya tak jauh dari pantai itu. Malam pun kembali datang, hamparan langit maha sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa, namun satu bintang yang berpijar teruntai turun menyapa Putri Kuda. Mulut pria itu terus bergerak-gerak perlahan dan bahkan sangat terkejut ketika dilihatnya seorang gadis cantik berkaki Kuda. Jul terus mengikuti Putri Kuda dan memilih untuk pisah dari kawanya, Jul baru berhenti mengikuti langkahnya yang tertatih ketika dia berdiam pada sebuah nisan tak bernama. Lama dia mematung menatap gundukan yang basah oleh titik-titik air mata itu. Dinginnya angin malam yang menusuk tulang tampaknya tak begitu dia hiraukan. Dia tetap membisu di atas pusara yang entah milik siapa. Sementara, nun, di antara ranting-ranting pepohonan terdengar kicau murai yang berdendang merdu.

Pusara di hadapan Putri Kuda itu adalah Nenek Wensae yang telah pergi selama-lamanya.

“Sudahilah yang telah tiada dan ikhlaskan apa yang sejatinya telah meninggalkan kita.” Ucap Jul tepat dibelakan Putri Kuda.

“hekh—h ... hekh ... hekkh” isakan tangis “kau...?”

“Kenalkan namaku Jul,” menahan napas “tenang saja saya tak akan berbuat jahat.” Ucap Jul bernada tulus.

“Namaku Kutu Banjj Jul,”

“Apa?” Jul terkejut kenapa seorang wanita cantik bicara begitu.

Putri Kutu mulai membuka mulutnya.

“Ini adalah sahabatku,” dan sembari menunjukan ditangnya seekor kutu “ada perlu apakah kisanak kemari?” desahnya Putri Kuda.

“Saya berlabuh di laut ini karena kami ingin beristirahat setelah beberapa hari menjala tak ada hasilnya dan memutuskan untuk sementara bermalam di sini, namun saya terkejut melihat wanita sangat cantik berkaki kuda, maaf bukan bermaksud ... hmm ditambah lagi seekor Kutu bisa bicara.

“Aku memang ditakdirkan oleh Sang Kuasa begini.” Ucap Greetta lirih.

“Maaf, maksudnya ini sejak lahir Puan?”

“Namanya Putri Greeta Jul.” Jawab Jul yang sok kenal, mungkin dia suka karena Jul adalah lelaki baik.

“Oh ... Putri Greeta.” Dengan wajah berseri-seri seperti menunjukan dia menyukainya.

mungkin embun yang berkata
pada rumput yang basah
dan pada tanah yang lembab
tentang sunyi yang menyeruak
di antara pusara yang menyimpan
misteri jasad-jasad rapuh di lahatnya…

Mereka menjadi akrab, Jul dan Greeta sepertinya telah tumbuh benih-benih cinta pandangan pertama. Malam semakin larut tentunya teman-teman Jul mencari keberadaannya. Betapa terkejutnya mereka ketika ditemukannya Jul sedang bercanda dengan perempuan berkaki Kuda dan satunya ia tak tahu suara siapa? Mungkin mereka tak melihat kalau ada seekor Kutu. Salah satu seseorang dari mereka mengambir panah dan melepaskan tepat sasaran pada Putri Kuda. Putri Kuda meringis kesakitan dan Jul kaget ternyata yang membunuhnya adalah temannya sendiri. Jul—pun membabi buta, dan meraka melarikan diri sangat kencang.

“Tuan Putri bertahanlah, Aku mohon.” Sembari Jull meletakan tubuh Greeta di dipangkuan yang berlumurkan darah.

“Aku ... ahh—ahh, sakit Banjj ... Banjj.” Dengan dipegang anak panah yang menancap di perutnya.

“Putri .. Put bertahanlah aku akan mengobatimu.” Ucap Banjj lirih meminta

“Tak mungkin kau bisa Banjj, tombak telah tepat di jantungku.” Meringis kesakitan.

“Sudahlah diam sejenak, pernah kukatakan bahwa diriku adalah Kutu ajaib, dan aku akan mengabulkan permohonanmu agar kau bisa hidup dan menjadi manusia normal, namun nantinya kau tak akan bisa melihatku selama-lamanya, lantaran ini persyaratan satu-satunya.

“Tidak Banjj, kau adalah sahabat dan teman yang aku punya, tak ingin kau berkorban untukku.”

“Sudah cukup penderitaanmu Tuan Putri, biarkanlah Jul nantinya penggantiku dan akan tetap menjagamu, tenang saja aku tak apa.”

Ritual dimulai, memang benar Banjj adalah Kutu ajaib. Setelah Putri Greeta tertolong dan Banjj berhasil menyembuhkannya, kemudian ia lenyap dengan sendirinya. Putri Greeta sangat sedih kehilangan Banjj untuk selamanya.

*****

 
Kini, puaslah ia melihat dunia yang tak lagi hirau padanya. Tersenyum-senyumlah ia mengenang rentetan peristiwa dalam kepalanya. Tak seperti dulu, ketika ia masih menjelma perempaun berkaki Kuda.

“Pagi yang begitu cerah. Aku melihat semangat mulai tumbuh di wajah mereka. Semangat itu tak ubahnya seperti daun putri malu yang bangun dari tidurnya. Aku semakin yakin kalau kami akan sampai di sana. Aku sudah membayangkan keindahan itu, sebuah tahta megah dan makmur rakyatnya.” Ucap Putri Greeta, sembari Ayahnya meletakan mahkota di kepalanya. Karena setelah kejadia itu, Putri Greeta Pulang ke Istana dan menceritakan semua apa yang mendiang dalam dirinya termasuk Jul, ia pun setia menjadi pengawal Putri Greeta. Sedangkan Ibu tiri dan adiknya semua semakin terlihat bahwa hatinya busuk dan ingin menguasai kerajaan itu. Sebagai ganjaranya Sang Raja mengusir dan menterasingkanya di tempat yang tak pernah dijangkau orang.

Kita tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari cinta dan sahabat, karena cinta dan sahabat adalah sebagian dari asal manusia.



Tanjungkarang, 02.05.2015

Dua Jiwa Satu Hati




Pagi berselimut rindu, dedaunan tertunduk malu. Burung-burung dan ayam hutan bersenandung sendu, merindu mentari yang masih bersembunyi di balik awan kelabu. Pagi di Lambusir, embun pelan bergulir. Di hembus angin semilir, membasahi tanah, cerita pagi pun mengalir. Pagi di awal tahun, meski kabut tak turun. Doa-doa diucap tersusun. Semoga kebahagiaan datang berduyun. Oh, aku rindu senyum sang arjuna. Seperti rindu sabana pada sinar mentari. Menyambut menghangatkan hati di pagi hari. Kerinduanku pun terhampar pada bait-bait sunyi.

"Dooorr!" Gertak Lailla kepada Rose yang sedang memainkan jemarinya di keyboard.

"Ait-dah, dirimu La selalu saja, bikin jantungku mau copot."

"Maaf ... Maaf! Yang imut-imut dan baik hati, cie--cie yang mau nikah nih ya, mukanya berseri-seri?" Goda Lailla dengan centilnya.

"Hmmm dirimu ini La kebiasaan, masih saja kelakuannya gak berubah, gaya pakaianmu juga, kapan mau benahi diri?" Karena Rose melihat Lailla memakai rok mini dan baju sangat mencolok, memberanikan bicara gitu

"Oeeiih ikutan nimbrung dong." Suara Edoe dari samping.

"Sang arjuna telah datang tuan putri Rose, Ananda melapor." Lugas gaya candanya Lailla.

"Ah, dikau ini La, oh-ya aku kesini ingin menyampaikan pesan, tadi habis dari kampus bentar dan ternyata dapat titipan surat untuk Rose dari Pak Dosen." Jawab Edoe, sambil menyodorkannya pada Rose.

"Iya, Terimasih ya Doe, entar aku baca."

"Ya, sudah aku tak pulang dulu ya, kita kan belum boleh ketemuan karena ini dalam masa pingitan, 3 hari lagi kita akan menikah Rose."

"Semoga esok adalah hari bahagia kita Doe, sekalian tuh anterin pulang putri Lailla ke rumah."

"Siap laksanakan Bos, mari Nona Lailla, heheh ... Maaf canda."

Hari yang dinanti telah datang, akad nikah dilaksanakan di masjid. Keluarga Edoe dan Lailla pun telah nampak dan tentunya kedua orangtua Rose berserta penghulu dan saksi-saksi lain. Entahlah ada yang aneh dalam pernikahan ini, SubhanaAllah Lailla nampak cantik sekali dengan gaunnya semua aurat tertutup, hadirin tertagum-tagum melihat gadis tomboy dan selalu mengikuti gaya model bisa berubah drastis. Penghulu pun menanyakannya kepada orangtua mempelai wanita kenapa belum datang dan jam yang telah direncanakan sudah lewat beberapa menit yang lalu. Hingga akhirnya Ayah Rose angkat bicara, susana jadi hening setelah mengabarkan bahwa Rose tak akan ada dalam pernikahan ini hanya meninggalkan sepucuk surat, dan kemudia dibaca oleh ayah Roes tepat dihadapan mereka.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabaraqatuh. "Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” ( QS Ar-Rahman ). Mengenal kalian berdua adalah anugrah terindah yang tak bisa ternilai, engkau Edoe dan Lailla, maafkan aku semuanya yang telah hadir di sini. Aku tahu kalian akan membenciku, tapi janganlah engkau menerka, apa yang aku lakukan adalah kebahagiaan kita. Tak sengaja tadi malam aku telah membaca blognya Lailla, sahabat tidak akan meninggalakan percakapan setelah lama duduk diberanda. Aku mendengar ini  sangatlah bahagia, sahabat yang aku cintai ternyata mau berubah dan menutup auratnnya.
Demi ingin dimuliakan sebagai wanita. Ia beraharap calon suamikulah tempat yang dipemohon kepada Allah, cinta bisa merubah situasi apapun, cinta itu sebuah tekat dan harapan dan tentunya harus menerima pesakitan. Aku tahu Edoe tidak mungkin akan menolak ini karen beliau tau persis apa maksudku, jangan kau hiraukan aku bagaimana rasanya, tentunya aku masih bisa tersenyum, sebenarnya aku ingin melihat sahabatku Lailla memakai hijab, pastinya cantik banget. Tapi hadirku nantinya akan memperkeruh masalah. Aku memutuskan untuk pergi ke Kairo menempuh S2. Ini adalah permintaan pihak kampus yang kemarin suratnya Edoe bawa. Pastinya ini bukan kesia-siaan, aku di sana bisa menjadi agent muslimah untuk turis-turis yang berkunjung, itu adalah impianku memperkenalkan budaya islam keseluruh dunia. Mengenai orangtuaku mendukung sepenuhnya terhadap anaknya, beliau pun menyetujuinya. aku sayang kalian berdua. Selamat menumpuh hidup baru sahabatku." Hingga akhirnya pernikahan dilaksanakan Edoe dan Lailla

"Kau hadir dengan sekeranjang cinta, dia datang dengan segunung rasa, harus menoleh tapi bingung memilih asa; dua jiwa terzahir dalam hati cinta. Dua jiwa satu hati, sama kasih sama menyeri. Dimana aku berdiri ada rasa peduli, hatiku kekasih benar-benar menguji. Aku tetap memilih walau ada luka, maafkan aku sayang karena menerka. Cintamu ada tapi dalam silauan cahaya, cinta dia ada namun tidak menyata; aku berdiri di sudut penuh bahana. Ada cinta tapi tiada pemunya, ijinkan aku menyata bahagia. Bersamamu dan dia keduanya ceria, biar aku peluk; dua jiwa dalam satu hati."

Tanjungkarang 10.01.2015

Bukit Mawar


Namanya Aylia. Perempuan, kurus, cantik, umur 30 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mbak Ay,” ada juga yang memanggilnya dengan ”Teteh Lia”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar.

Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Aylia, perempuan itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit gemetar bahwa itu pilihan ibunya. Ibunya hanya penjual bunga.

”Apa ibu anda penggemar wayang?” ada saja yang bertanya begitu.

”Saya tidak tahu. Dan saya juga tidak tertarik untuk bertanya,” jawabnya seperti biasa.

Dia sahabat sepermainanku, sejak masa belum sekolah, kemudian taman kanak-kanak, ngaji bersama, sampai kelas 3 sekolah dasar. Setelah itu, kami terpisahkan oleh nasib orangtua kami. Maksudku, aku terpaksa pindah ke Jakarta dan dia tetap di sana. Akan tetapi, nasib pula yang mempertemukan kami di tempat ini, Dusun kecil yang indah. Aku tinggal di dekat Bogor, dan ketika aku dan suami iseng-iseng mencari tanaman untuk rumah baru kami, aku dipertemukan dengan Aylia.

Begitulah, tanpa upacara, nyaris tanpa kata, aku bertemu dengan Aylia, yang masih lugu. Namun sejak itu—dua tahun lalu—aku sering bertandang ke kediaman sekaligus kebunnya. Hidup tercipta dari hal-hal kecil; kebodohan kami waktu kecil, yang berandai “Ingin terbang menuju bulan, jika tak sampai aku mendarat diantara bintang” maka jangan pernah mudah menyimpulkan tiap takdir yang datang. Karena tak ada yang tahu masa depan, karena tiap-tiap yang datang mungkin saja adalah bagian dari diri yang telah Dia takdirkan dalam ruang dan menit yang tepat. Seperti  Aylia dulunya cuman satu batang mawar yang di berikan sesorang untuknya kini menjelma bertangkai-tangkai yang sangat indah.

***

Aylia dan mawar memang tak terpisahkan. Maksudku, Aylia adalah sahabatku, dan siapakah mawar? Bukan siapa-siapa, karena memang bukan manusia, tetapi tanaman. Mawar kampung.

”Kenapa?” tanyaku, suatu kali.

”Apanya yang kenapa?” jawabnya sambil membuat wadah dari sabut kelapa dan pelepah pisang untuk bibit. Tangannya sangat terampil menciptakan wadah-wadah sederhana itu.

”Mawar. Kenapa bukan Anthurium, atau Anggrek Hitam, misalnya?”

”Sudah pernah dan ketika anthurium merajai pasaran, aku bisa beli tanah ini, seluas ini,” ujarnya datar saja, tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya. Kupandangi tanah seluas seribu meter persegi di tepi jalan itu. Ada patok-patok kayu.

”Mereka mau membangun mal,” ucapnya dingin.

”Maksudmu?”

”Mereka memaksaku untuk menjual tanah ini dan membangun mal di atas lahan ini.”

”Hmm … kalau harganya bagus, kenapa tidak dilepas.”

”Harganya bagus. Tapi aku tidak mau melepas.”

”Kenapa?”

Dia diam, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sedikit kesal. ”Lantas di mana aku menanam mawar-mawarku?” ketus jawabnya “ dari gunung yang tegak berdiri di atas sana akan ada bukit, yang menanti gerak; mawar merah sebuah kenangan, sahabat lama dalam perpaduan, kasih kalian tersimpan dilipatan, tidak terganti waktu kehadapan, teruntukmu mawar simpanlah aku sebagai penawar bunuhlah petir dan halilintar, agar hatimu tidak berteman pudar. Dari ladang gandum berombak dihembus angin; mawar, lambang agung prasada cinta pengganti suara hati menyata penuh pesona menggoda sukma rebah asa tanpa rasa membahana, aroma mu membangkit ghairah, terlena dalam lunglai seribu resah, memukau suasana penuh seri menerjah, baunya mudah membunuh gelisah.”

***

Sepulangku dari kediaman Aylia, aku tak bisa tidur. Aneh, manusia satu itu bicaranya membuatku tak mengerti. Kuperkirakan, dia bisa mengantungi sedikitnya dua miliar; dengan luas dan posisi dekat jalan raya, dan dengan uang itu dia bisa membeli tanah yang lebih luas … lebih daripada cukup kalau untuk menanam mawar kampung! Gila.

Tapi, entah mengapa, aku diserang rasa gelisah. Ada yang begitu murni, bodoh—mungkin—dan rasa cinta yang tulus, ketika dia mempertanyakan di mana akan menanam mawarnya. Ah, jangan-jangan aku sudah tertular penyakit gila yang dideritanya. Sangat tidak masuk akal. Sangat bodoh.

***

Beberapa bulan berlalu, aku tidak main ke rumahnya. Dari rumah tinggal yang dicat dengan pertanda merah, melambangkan kelopak halusnya sangat cantik, penuh wibawa dalam suasana menarik semua hati akan tertawan, tertarik akan indahnya tanpa rasa resah carik. Dari sarang burung yang pernah ada di tepi atap rumah; tanpa musim kau menjalar dalam sejuta cuaca pilar kau mawar adalah penawar mengikat dua hati tanpa rasa pijar.

Mungkin karena jengkel, mungkin juga karena merasa berhadapan dengan orang sinting, aku tidak berminat menemuinya. Tapi, mungkin juga karena aku memang ditelan kesibukan pekerjaan. Aku harus mengawasi proyek, yang kadang-kadang membuatku berhari-hari di luar kota. Ketika pulang pun, aku hanya bisa bertemu dengan kesunyian rumah dan si Min, pembantu kami, karena suamiku pun ditelan kesibukan kantornya, dan saat itu dia di Makassar.

”Dua hari yang lalu, ada orang ke rumah, nyari Ibu…” ujar Min sambil membongkar tasku.

Aku diam, mencoba menikmati kehampaan yang tiba-tiba menganga ini. Kusimak pembicaraan Min dan aku tahu bahwa orang itu pastilah Aylia. Apalagi ketika kutanyakan apakah di wajahnya ada tai lalat kecil dan Min mengiyakan sambil tertawa, aku yakin, orang itu pasti Aylia.

”Keberatan nama Bu, Aylia, kok, nyekingkring.” tambahnya sambil tertawa geli sendiri.

”Ada pesan apa?”

”Ndak ada…, dia cuma bilang, ‘o, ya, sudah’ terus pulang.”

***

Lama setelah itu, aku masih saja belum sempat menemui Aylia. Aku mau telepon, tapi seingatku, dia tak pernah memberiku nomor HP. Manusia primitif satu ini memang istimewa sekali.

Sementara itu persoalanku sendiri dengan Nathan—suamiku—muncul lagi. Persoalan yang sebetulnya sudah bisa diduga dan diurai dengan mudah, tapi, sekali lagi, emosi dan tenaga kami habis disedot pekerjaan. Siang dan malam hanyalah soal terang dan gelap belaka. Rumah berkamar tidur dengan pendingin udara, bahkan bukan sebuah kesejukan di rumah kami. Kami adalah dua orang yang saling bermusuhan diam-diam dan menyembunyikan diri di balik laptop atau BB, untuk saling … entahlah. Aku bahkan kehilangan semua kosakata, dan anehnya dia yang dulu terkenal bawel—dan itu yang membuatku jatuh cinta—kini lebih bisu daripada batu.

Aku sendiri sudah tidak tahu lagi, sudah berapa jauh jarak kehidupan cinta kami terentang. Sejak kapan hal itu dimulai, kurasa dia pun tak punya jawaban. Yang ada hanyalah kami harus punya foto perkawinan yang bahagia, senyum manis tak terkira dan handai taulan, sanak saudara, kenalan, relasi, bos menganggap kami manusia bahagia yang patut dijadikan contoh.

Beruntunglah Aylia, barangkali dia tidak menemukan neraka itu di rumahnya, karena dia hanya mengikatkan diri pada mawarnya.

***

Siang itu di proyek, yang kurasakan adalah tusukan sepi yang luar biasa. Di kantin, ketika makan siang, mataku tertuju pada televisi yang menyiarkan peristiwa. Ah, ini membuatku kian merasa terpuruk menjadi manusia; apa sebetulnya yang ingin kucari? Protes, demo, penembakan oleh aparat, korupsi, artis dilecehkan, wartawan dan pelajar saling jotos, guru menggampar murid, murid membunuh guru ... coba sebut satu saja yang mampu memberikan harapan hidup lebih baik.

Tapi, ketika seorang penyiar menyebut satu nama—sambil sedikit tersenyum, aku seperti tersengat lebah. Aylia jadi berita. Ah, pastilah kasus tanahnya. Ah, bagaimana dia? Kusimak berita, tapi tak kulihat si Aylia. Hanya ada massa yang kulihat mendukung Aylia—di halaman Kantor Pengadilan Negeri.

***

Entah mengapa, berita tv siang itu menggangguku; paling tidak, telah berubah menjadi semacam isu di antara kami. Sambil makan malam bersama kolega bisnis properti dan beberapa investor, percakapan tentang Aylia menjadi bagian dari menu malam itu. Aku tentu saja harus bersama Nathan, yang sejak semula harus merasa bahagia bersamaku.

”Nathan, coba kalau kamu punya tanah seluas itu dengan harga jual yang sangat bagus—di atas NJOP di wilayah itu—kamu bertahan?” ucap bosku sambil menyuapkan potongan steak ke mulutnya.

Nathan hanya tersenyum saja, menjawab tanpa jawaban. Sempat kulirik senyumnya. Masih senyum yang dulu kukenali dan kusukai. Sesaat kemudian pandangan kami bertemu di suatu sudut yang dulu pernah kami singgahi; sudut kecil saja di kenanganku—paling tidak.

”Kalau saya, maaf, tanah itu tidak akan saya jual…” entah mengapa, aku tiba-tiba seperti didorong oleh tenaga aneh, meloncat begitu saja dari mulutku.

Meja makan seperti tersiram es. Aku tahu, tak seorang pun boleh membantah ucapan bosku, karena dia adalah bos.

”Mmm … bukan itu jawaban yang aku harapkan, apalagi dari kamu. Tapi, tolong, buat aku bisa memahami ’kebodohan’ yang…” dia menebar pandangan kemudian tertawa, diikuti orang semeja. Kulihat Nathan salah tingkah.

”Hmm..., (aku menelan ludah) maksud saya, saya paham pada apa yang dilakukan Aylia…” jawab Nathan

”Ooo, jadi kamu kenal juga dengan si Aylia?” sela bosku, yang melanjutkannya dengan gelak tawa.

”He’em … ya, Pak. Dia sahabat sepermainan…”

”Maaf..., bilang sama Aylia, dia boleh saja menikmati kemenangannya kali ini. Tapi itu tidak lama…”

Di perjalanan pulang, aku membisu. Nathan membeku. Entah mengapa, aku merasa tiba-tiba menjadi ancaman bagi Aylia.

Nathan membuka pembicaraan yang membuatku merasa kian bodoh. Bermula dari celaannya tentang mengapa aku  berkomentar tentang pertanyaan yang bahkan bukan untukku, sampai sebuah hubungan antara kantorku dengan Aylia yang selama ini sama sekali tak kusadari.

”Makanya, jangan asyik sendiri. Jelas sekali, siapa pun tahu kalau kantormu itu gurita dengan sejuta tentakel. Terus mau apa? Demi Aylia dan mawarnya itu, kamu mau apa?”

Aku diam. Aku hanya ingin sampai di rumah.

***

Sejak peristiwa makan malam itu, aku jadi makin kehilangan kegembiraan bekerja. Semua perhatianku, bahkan mimpiku, tersedot pada Aylia dan mawarnya. Dan entah mengapa, di mata bosku, aku seperti duri dalam daging. Kusadari semuanya tanpa perasaan apa-apa. Kuterima semua penilaian atas dedikasiku selama ini, dari bosku, dengan jiwa kosong. Aneh juga rasanya, tapi itulah yang kualami. Termasuk ketika bos menawariku posisi lain di salah satu perusahaannya yang lain—untuk menghilangkan ’duri’ yang ada di ’daging’-nya, aku menolak dengan halus. Aku memilih duduk di samping Aylia yang tenang membuat wadah-wadah sederhana dari tapas kelapa dan pelepah pisang.

***

Itulah yang kulakukan. Dan ketika aku sampai di rumah Aylia, aku dibuat terperangah. Rupanya, selama ini, ketika proses pengadilan berlangsung, pihak ’pembeli’ bahkan sudah membangun bangunan, memang belum finishing, tapi bangunan itu sudah berdiri. Ya, Tuhan, sudah berapa lama aku tidak berhubungan dengan Aylia?

Dan bangunan itu, oleh Aylia sengaja tidak dihancurkan. Orang gila satu ini memang selalu aneh-aneh. Dia bahkan menggali tanah di sekeliling bangunan belum jadi itu dan menguruk seluruh bangunan itu hingga menjelma bukit. Bukit tanah merah yang dikelilingi parit dalam.

Kusaksikan orang-orang kampung yang mendukung tindakan Aylia di pengadilan sibuk melakukan ini--itu. Kami duduk di tanah menatap ’bukit’ yang baru lahir itu.

”Apa yang akan kamu lakukan dengan bukit ini?”

”Bayangkan, Yun. Ini nanti akan jadi bukit mawar. Seluruhnya aku tanami mawar kampung.”

”Seluruhnya?” dan kudengar Aylia tertawa bahagia. Kemudian dia menyambung bahwa parit yang lebar dan panjang mengelilingi bukit ini akan jadi lahan pemancingan, yang mengurusi nanti adalah–dia menyebutkan beberapa nama yang kuduga orang kampung situ.

Sambil membayangkan di sana-sini muncul warung makan kecil, dan orang-orang makan ikan bakar, atau sekadar minum kopi, mereka menikmati ”keajaiban dunia”: bukit mawar. Aylia bukan hanya membangun keajaiban, bukan juga membangun mimpi, tetapi harapan bagi orang banyak. Aku jadi kian merasa tak ada apa-apanya berhadapan dengan anak janda penjual bunga di makam ini.

”Terima kasih, kamu mau datang,” ucapnya dengan senyum mawarnya. “mmm … ngajak mas Nathan, ya…”

Nathan menyusulku? Dan kulihat Nathan gembira, gelak tawanya lepas, seperti murai yang berkicau di pagi hari, dia pun mengoceh dan mengoceh. Aku terkunci dalam kebingunganku sendiri.

”Aku suka ini. Aku gembira ada yang bisa memutus rantai kebekuan. Dan aku bangga, kau pun melakukan itu.” Ucapnya dengan wajahnya, yang—ah, kenapa jadi tampan sekali?

”Aku tidak melakukan apa-apa…”

”Kau keluar dari gurita raksasa, itu adalah sebuah perbuatan gila, sinting, tapi benar. Dan … aku bangga bahwa aku masih punya seseorang yang mau berbuat benar.”

”Meskipun gila?” godaku.

”Plus sinting dan nekat,” tambahnya diikuti gelak tawa.

***

Setelah dia jelaskan apa yang akan dilakukannya dengan bukit itu, dia pun merangkak memanjat bukitnya. Di tangan kanannya tergenggam sebatang mawar.

Sebuah ritual pun dimulai “Mawar aku mencintaimu, kenangan semalam amat berharga tidak terbeli dengan apa-pun juga, simpanlah aku sebagai lagenda, aku janji qalam senantiasa bersama, bahagia kini karenamu kenangan” teriaknya yang tak membuat aku mengerti, kata-kata ini pernah aku mendengarnya dan kulihat suamiku tersenyum lepas. Iya! Puluhan tahun yang lalu, aku masih ingat betul, kata itu iya lontarkan teruntuk Nathan.

“Diam! Kalian ... kalian ... kalian berdua” suara tersedu-sedan“membohongiku” teriakku

“Tak paham aku, dengan bicaramu Yun, kenapa?” tanya Aylia

“Mengapa ... mengapa kalian lakukan ini padaku? Aku menjadi orang pendosa menghalangi cinta kalian berdua!”

“Tenang dulu Yun, bisa Mas jelaskan, kit ... kita tak ada hubungan apa-apa” dan berusaha Nathan memelukku, seketika kualihkan tangannya dari pundakku, aku semakin terpuruk. Dan Aylia lebih memilih diam.

Dari debu; aku tetap memilih walau ada luka, mungkin netraku buta, maafkan aku sayang karena menerka, cintamu ada tapi dalam silauan cahaya, cinta dia ada namun tidak menyata, aku berdiri di sudut penuh bahana. Dari bayangan pohon ara; ada cinta tapi tiada pemunya, memohon kesempatan untuk tumbuh berbuah dengan sendirinya, aku berdiri teguh biar usang, mawar lambang lagenda kenangan, umpama hati ditusuk duri hidup walau hampir mati, mawar harummu beraroma sekuntum rindu yang terbentuk dalam istana syahdu.

Dari mengamati keajaiban ini; ternyata benar, sedari kecil aku dan Nathan telah di jodohkan oleh orang tua kita, akupun tak bisa mengelak, se--tahu kami kita saling mengenal. Aku tahu bahwa Ayahku akan merangkai sulur anggur; oplosan belum tentu memabukan, seteguk kasih yang mengundang kepayang begitulah sisi lainnya karena melihat ketampanan Nathan, Ayah tak ingin anaknya salah melangkah, dan kebetulan pula orangtua kami telah bersahabat.

Sedangkan Aylia, wanita cantik yang sederhana mempunyai paras jelita, di hatinya tersimpanlah purdah bijaksana yang tinggal di bukit mawar. Bak Ibu mengepang rambut anak daranya dan tentunya tegak teguh setia dengan jiwa pekerti, bahwa benar buah tak jatuh dari pohonya.

Beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk menceraikan Nathan, setelah kami bertiga terbuka satu sama lain, aku bahagia dengan keputusan ini, pada akhirnya bukit mawar adalah lambang persada persahabatan kami, walaupun awalnya aku menentang! Tapi aku telah menyadarinya akan cinta sejati. Dan aku memutuskan menetap di Seoul menjalankan kelangsungan bisnis Ayah.

Jika ada kata-kata terlahir dari dalam labirin kepala, lalu ia mengalir menuju hilir yang entah. Jika puisi dan prosa tercipta, lalu kau mulai membaca, memahami, dan menerka-nerka isi hatinya. Cinta sejati itu pasti akan bersatu, entah kapan masanya.

|| Tanjungkarang, 06.04.15