Namamu Di..., Dion?

Entahlah siapa dia sebelum aku mengenalnya, lelaki berdasi dan kadangkala juga pakaianya rapih sering kujumpai saat shalat dzuhur berjama'ah di masjid (belakang tempat kerjaku). Dan ketikanya saat itu aku pernah berdoa meminta kepada-Nya "Ya Allah... bila Engkau berkehendak dan mewajibkan hambamu berpasang-pasangan jodohkanlah aku dengannya."

Ia adalah lelaki bersahaja
Asal dari Yogyakarta
Kewibawahan nampak dalam pundaknya
Senyum ramah tersungging polos di wajahnya
Dengan khas sepedah montornya, karismatik di pandang netra
Apakah ini sekedar kagum atau jatuhcinta?
Ah, aku rasa keduanya sama!

Setelah berseling waktu, berganti hari kita di hadapkan dengan tatap mata depan masjid karena sama-sama ingin memakai sepatu.
"Hay, habis shalat?" senyum ramah terurai darinya "Iya." sembari ku mengangguk, hwaaa tikanya jantungku berdegub kencang.

"Mbak, itu yang kerja di ** kan?." tanyanya padaku. "Iyaah, kalau Mas kerja di Bank sebelah kan?" ternyata memang kantor kita bersebelahan. Dia-pun tersenyum.

"Namaku Dion, kalau Mbak siapa namanya?." sembari memakai sepatunya.

"Aku, Ghadeer." jawabku balik "Yaa-udah, Mas! Saya duluan. Mau cari makan nanti keburu jam istirahat habis." pungkasku.

"Sekalian aja bareng sama saya?." sahutnya.

"Maksudnya, cari makanan bareng gitu." tuturku balik menegaskan.

"Iya..... Saya juga mau cari makan. Bagaimana kalau nasi padang di bawah play over? Di situ enak-enak lo." dengan nada meyakinkanku.

"Hmmm... ya udah deh!" kepasrahanku, di satu sisi-pun aku senang.

Pergumaman batinku terus di hantui tentangnya, kamipun akhirnya berdua bersahabat sama seperti lainya. Namun di lubuk hatiku yang paling palung ada namanya di setiap doaku. Sssssttt, aku di mutasi ke daerah plosok selama 6 bulan lamanya. Akupun fokus sama kerjaanku dan jarang chatan sama teman-teman lainya, maklum orang jualan pulsa susah di cari.

Akupun telah selesai menuntaskan pekerjaanku, hingga kembali keasal. Iaaaah aku sudah tak sabar ingin menjumpai Dion.

Baru saja turun dari mobil langsung di sapa Satpam Bank sebelah "Ghadeer.....! Kamu sudah pulang? Kemarin minggu, berarti menghadiri acara tunangan Dion dong?." huaaa langit-langitku terasa mau runtuh, hujan akan turun. Ekspetasiku terlalu tinggi ingin bersanding denganya. Begitu saja ia jatuhkan khayalanku berasa aku? Ah sudah tak bisa lagi (di)utarakan oleh kata-kata. Apalagi (di)baratkan.

"Ini adalah batas nalarku menembus kau; hitam. Netraku tertutup, aku terkantuk! Otak perih mengeja detik hingga ngilu. Dan aku: hanya katak yang melebarkan kepala di atas teratai, berharap langit akan menunduk dan bersidekap."

Di saat itu-pun aku tak berani melihat atau menyapanya. Aku takut ... malu! Satu hal yang aku sadari, cinta dalam diam itu menyakitkan. Namun seiring dengan keikhlasan hatipun menghadiri undangan pernikahannya.

Ini rasa akan baik-baik saja
Sebab tak ada satupun orang tahu tentang cintaku padanya
Aku hanya perlu terima sebagaimana mestinya
Tuhan itu tepat! Menjodohkan insannya

"Selamat ya, semoga bahagia menyertaimu Dion." itulah pertama kalinya aku menyentuh tanganya dan memandang lebih lama bola mata Dion, serasa kita saling bercakapan namun tak di sertai dengan suara.
Aku percaya, engkau-pun sama rasanya sepertiku.
TK-11112017

Aku, Ibu Dan Puisi

Aku dan ibu, dua kayu yang sering beradu. Panas tapi tak membakar, tak saling mematahkan. Pertengkaran kecil hanya karena aku kayu yang lebih keras dan kaku. Sering beradu, tapi saling menyayangi, tak menimbulkan api. Ibu, kau tetaplah ibuku. Aku tetaplah anakmu, takut dengan amarahmu.


Aku dan puisi, sering bercerita tentang ibu. Tentang kedalaman rasa terhadap sosok tercinta lewat coretan pena. Puisi, seberapa pun indahnya puisi tentang ibu hanyalah puisi, menjadi kosong tak berarti bila tanpa laku-lampah darma bakti.

Ibu dan puisi, ibuku tak mengerti puisi. Ibuku hanya mengerti tentang kasih sayang dan cinta sejati untuk aku anaknya. Ibuku tak perlu puisi untuk menumpahkan segala rasa yang ia miliki. Pun, ibu tak butuh puisiku, ia hanya butuh secuil saja rasa sayang dan perhatianku. Ibu....., ma'afkan aku, kayu yang sering menitikkan airmatamu...

Namaku; Sunyi

Aku adalah wanita yang jatuh cinta pada sepi. Sebab keheningan selalu mencengkam pada sunyi! Iyaa ... namaku Sunyi; Aku ingin sendirian, perlu merenungkan malu dan putus asa di pengasingan. Aku butuh sinar matahari dan batu paving..... Jalan-jalan tanpa teman dan percakapan serta di iringi musik hatiku sebagai harmonika kalbu.

Aku begitu lelah mencari jati diri; Sunyi. Kebisingan selalu menerpa seperti yang terjadi kadang-kadang saat menetap dan melayang tepat untuk lebih dari sesat! Suara gerakanpun turut berhenti.

Kali, bertanya? Apa hal terburuk yang akan terjad, kemudian mendorong diri untuk sedikit lebih jauh dari berani setelah memulai bicara..... "Orang akan berteriak padaku, mereka akan menggangguku dan menempatkan ke bawah penyaranan pribadi. Dan dunia tidak akan berakhir."

Mungkin, menjawab? Benar kebohongan paling kejam, sering di ceritakan dalam Sunyi. Dan aku akan takut menyambut pembicaraan yang terkadang tak ada kata-kata. Kesunyian melemparkan selembar lautan, tapi aku berhasil mencapai di atasnya, untuk membungkus lenganku di sekeliling.



TanjungKarang, 04012017

Surat Kelahiran

Hujan telah menjadi rinai gerimis terakhir, kapas-kapas langit membentuk konstalasi paling magic, dan aku menaruh separuh nafas untuk menunggu sebuah waktu yang akan tiba. Dengan keadaan tak sabar, kian hari dada kian berdebar, beradu cepat dengan getar suara yang menyusup pada telinga-telinga kesepian. Aku berharap esok adalah hari ini. Dan aku menanti sebuah hari, ketika hati kurasa akan mendapatkan kesempatan cinta.

Itu adalah hari kelahiranmu, aku menunggu-nunggu itu segera saja tiba. Sebab aku mengalami ketakutan; dalam, juga takluk di depanmu, ketika aku mengalami sepi dan keinginan bersembunyi. Perjumpaan denganmu membawaku pada labirin kebingungan. Pertemuan denganmu membawaku pada ketakutan tentang pertanyaan kapan aku dapat bertemu denganmu lagi.
Aku bahagia pertama kali bisa bicara denganmu, begitupula pula aku cemas, perjumpaan pertama membawaku berharap perjumpaan selanjutnya. Dan perjumpaan selanjutnya adalah lorong gelap yang tak kunjung bercahaya kecuali harapan di dada yang menyala-nyala menuntunku terus melangkah.

Meski sekadar kata yang mungkin tak bermakna, menyapamu meski sekata, adalah kebahagiaan yang tak bernama. Apalagi, aku mengucapkannya untuk memberi selamat di hari lahirmu, meski kutahu ada begitu banyak yang memberi kata, ucapku padamu di hari lahirmu, adalah jalan pertama menuju cinta. Selanjutnya, tentu aku berdoa kau turut membalas kata dan akhirnya kita bisa jumpa.
Di akhir malam nanti, sebuah tanggal akan melonceng seperti biasa. Kali ini dengan malam sepanjang diam, dengan bintang sepanjang gemerlap, aku menunggu lahirnya sebuah hari istimewa bagimu. Tentu teristimewa pula bagiku. Meski telah kusebut namamu dalam doa pada hari-hari yang lain, mendoakamu di hari ulang tahun terasa istimewa dan menjadi perasaan tak biasa.
Tubuhku yang rindu, hanya terpaku di sekotak ruang rebah ragaku. Menikmati hilir angin yang datang membawa kabar tentangmu. Tentang dirimu yang masih terjaga di sana, tak peduli pagi yang dini adalah hari apa. Dan aku gagap didekap perasaan yang kacau untuk menyapamu. Tak ada keberanian melawan rindu yang telanjur melumuri sekujur tubuhku.

Aku hanya bisa menjadi igauan dalam lamunan ketika angin suaramu singgah dan merebah di daun mataku. Aku senang kau terjaga untukku, sebab diriku tak tahu harus bagaimana memberikan hadiah ini untukmu. Bukan bingkisan besar ataupun bintang bersinar. Hanya sekadar persinggahan pada ruang mimpimu. Malam ini, aku dibantu angin dan elemen-elemen rasa memberimu lelap yang teramat.

Dengan langit yang gelap, aku menjelma dingin merasuk dan melangkah menuju tubuhmu. Dengan cekatan aku mengasup wajahmu yang lugu terserang banyak rindu dari wajah lain yang tak kau kenal. Dan tak kusangka ada sedikit wajahku di sana, dan dia bermainmain dekat matamu yang terkatup.

Maafkan aku, aku hanya ingin singgah sejenak dalam pikiranmu. Menjadi mimpi sederhana yang membangunkanmu dan tetiba saja kau ingat kepadaku. Tentang aku yang ingin sekali berjumpa kembali, lalu menatapmu lagi, untuk melepaskan keringat dan menggigilnya aku merindukanmu. Dan tak ada ketakutan bahwa itu adalah pertemuan yang tak melahirkan kisah selanjutnya.
“Selamat Ulang tahun, Kak Dan. Semoga kau menjadi makhluk yang tak pernah takluk pada kenangan. Jadilah lelaki yang tetap manis untuk dunia ini. Dan ... aku ingin sekali bertemu lagi denganmu, manjadi bagian dalam hidupmu; hingga usia tak lagi milikku.”

Detik ini lonceng menari-nari menyambut hari pagi yang terlalu dini. Hari dimana aku merasakan tangis kehadiranmu ke dunia, meski di tempat lain, kau tak pernah tahu ada anak kecil yang tersenyum bahagia dengan alasan yang tak terdifinisikan. Anak kecil itu tersenyum menyambut cinta yang dianggapnya kelak menjadi langit dari kehidupannya.

Pada hari ulang tahunmu, aku menunggu mengucapkannya. Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu, sebagai jalan paling memungkinkan menyapamu. Ketika tak banyak cara aku berbagi kata bertukar sapa, ulang tahunmu, adalah jejak jalan paling memungkinkan untuk menyapamu. Ketika tak banyak cara aku berbagi kata bertukar sapa, ulang tahunmu, adalah jejak jalan paling memungkinkan untuk menyapamu.

Pada ulang tahunmu, aku mendoakan, dengan serangkai kata yang kukirim menjelma gelombang dan terhampar di layar mata. Ketahuilah, diantara diam dan senyummu, ada seorang diluar sana yang tak henti merapal namamu dalam doa.

Pada ulang tahunmu, aku berharap kau membalas ucapanku meski sekadar terima kasih. Mungkin kau lupa padaku, tapi setidaksetidaknya kau membiarkanku hidup sementara waktu, membiarkanku menduga, bahwa kaulah cinta yang mungkin Tuhan lahirkan.

“Selamat Ulang Tahun, Kak Dan"

TnajungKarang, 31122016

Catatan Akhir Desember

Serupa Sakura, flamboyan adalah rekah kembang di bulan-bulan kenangan, hanya saja, sakura mencecah pada batang musim semi, sementara flamboyan turut hiasi jalan kenangan, tatkala hujan mulai merintik rindu saat Desember.

Pada rongga jendela yang terhimpit waktu, aku berbisik, tentang sepotong janji sepenggal cerita (asa, kata) kehidupan. Jemariku menari di tengah beberapa retorika, diary merah jambu menjadi saksinya, tarian malam mengisahkan tangis Dona Kesturi. Dimana, setelahnya angin mengantar, semilir aroma seikat melati, benih rindu yang kemarin ia titipkan kepada semesta. Di balik cermin air mata ini mengalir, lengkapi malam yang tak henti menebar isak. membuat detak jantung memburu, berpacu, seiring merah bara. Arrgggh aku ingin menjerit semampu dan sebisaku, namun serentak jiwa mencegahnya, "Jangan menangis lagi, Dona!" Biarlah kemarin pesona yang hadir dalam setiap simbol tangisan, menjadi satu alasan. Karena serupa dibalik cahaya selalu ada jeda bernama gulita. Jendela buram menjadi tempat singgah, sebuah penantian. Bukan ingin menahan laju hari, atau membalik putaran arloji. Hanya mengagumi sebentuk damai atau sekedar mengumpulkan secerca harapan lembar mimpi. Serupa permohonan kurcaci pada satu pertiga purnama.

Semusim sudah aku merajut benang kasih. Memintal rindu di tebing harap. Bila pun harus kuyu memetik gerimis menghapus jejak. Mungkin itu takdir yang telah tercoret dalam kanvasku. Serumpun kasih yang aku semaikan di pilar hatimu. Akan menjadi catatan terindah dalam hidupku. Walau akhir cerita ranggas menuai ngilu di pangkalan hati. Tintaku tak lagi ada untuk melukis warna. Diantara jejak yang kau tinggal. Biarlah pekatku bersetubuh dengan waktu. Meminang Heningku tertunduk di tepian Asa.

Harus aku lepaskan kebelengguan yang menjerat jiwa, di antara radangan bak tak bernyawa. Merindu yang sisakan waktu tunggu. Merapuhkan asa keputik jenuhku. Harus aku ikhlaskan, apa yang menjadi jawaban dan menjadi sebuah penentuan di antara liuk pikuk kehidupan karena ini adalah sebuah perjalanan. Aku harus membuka mata di pelataran dunia nan megah, yang terbentang di antara duka cita, tangkai impian dan harapan yang ada. Ketika semu hanyalah dalam riuhnya pesta. Aku harus relakan yang terjadi, ketika tabir gelap, ketuk hati! Menyajikan tembang pilu untukku, yang mengajari dan manasehati jiwaku, dalam arti sebuah pengalaman kisah nan baru.

Kini malam hujan turun lebat, membasahi pepohonan, air menetes di celah dedaunan, rindukan kekasih hati dalam ratapan. Sedalam masa lalu yang tergugah, kisah hitam yang ada di titian perjalanan, di deburan ombak kehidupan, meski tampak merah dalam marah. Dulu, riang dalam tawa, duka dalam derita, susah dan bahagia, sama-sama kita rasa. kini, tinggal aku sendiri, dalam diamku yang merindui, dengan masa yang silih berganti, yang tak kan mungkin kembali lagi. Harus ku relakan dan harus ku lepaskan, rasa yang mengikat jiwa, belengguan asmara kisah lama; aku dan dia.

Kurantai memory bersama kenangan. Hancur berderai kasih sepanjang zaman. Kau kibarkan dusta bernanah kehancuran. Segala keindahan kau tilang dengan kemunafikan. Kemarin sebuah kenangan terindah. Kita bersama mencipta cinta megah. Taupan dan badai tidak mampu menyanggah. Kita kiblatkan kasih penuh mujahadah. Hari ini tentu bukan kemarin. Aku mencari ssa dalam amalan. Aku tuai bahagia berteman impian. Kau masih berlari mencari kenangan. Kemarin sebuah kedewasaan diri. Alpha, khilaf, dhoif masih melingkari. Hari ini ku rubah hati dalam pekerti. karena Rabbuizzati bersemedi disanubari. Kasih abadi bukan milik kita!

30.12.2014

Air Mata; Nurani

"Jika air mata kesedihan yang gema hal yang hilang, lalu apa yang air mata kebahagiaan?"
Seperti halnya tadi malam, saya menangis sekuat itu dan sampai suara tersendat-sendat, alasanya apa? Sebuah amarah yang kerap kali tak bisa tumpah, rasa sakit yang kemudian sampai hulu hati hanya alasan menyesali diri sendiri. Mungkinkah begitu? Aiccch ... aku juga tak tahu, karena hatiku pula turut menangis.

Kita diajarkan untuk percaya bahwa 'keterasingan' yang kita alami kadang-kadang, ketika kita menarik diri dari segala sesuatu atau merasa sendirian, adalah keinginan untuk sesuatu seksual, material, atau dalam fisik-dan dapat disembuhkan dengan bermunculan pil dalam banyak kasus. Ketika di Truth, itu adalah sirkuit dalam jiwa dan pikiran kita yang mengisyaratkan untuk dihubungkan-energi mengalir nyata-di luar TV dan monitor komputer. Apa banyak dari kita keliru untuk depresi sebenarnya kebutuhan untuk dipahami, atau untuk melihat keinginan datang ke hasil? Ada benar-benar normal tentang perasaan terputus. sensitivitas Anda hanya berarti Anda lebih manusiawi daripada kebanyakan. Jika Anda menangis, Anda masih hidup. Saya akan lebih khawatir jika Anda tidak.

Jika kita tidak memiliki perasaan yang kuat, bagaimana kita bisa mencintai atau melawan? Ketika daging kita dipotong, kita berdarah. Ketika hati kita rusak, kita menangis. Tidak ada yang salah dengan itu. Ini hanya menjadi masalah ketika mendapat di jalan apa yang harus Anda lakukan. Anda tidak dapat runtuh ketika orang lain mengandalkan Anda.

Air mata telah mengalir dari matanya tanpa perubahan ekspresi wajahnya. Ini nyeri murni dan ketika jiwa kita menangis tanpa melawan dari tubuh kita dan itulah bagaimana saya tahu dia sangat terpengaruh.


10.08.2016

Ri, Aku Suka Kamu!

Ri, aku suka..... Bagimu untuk tetap diam! Hal ini seolah-olah kau tidak hadir. Dan kau dengar dari jauh, suaraku tidak menyentuhmu, Ri? Sepertinya matamu telah terbang jauh, tampaknya bahwa ciuman telah disegel mulutmu. Karena semua hal-hal yang penuh dengan jiwaku, muncul dari hal-hal yang dipenuhi dengan jiwamu! Seperti jiwaku adalah kupu-kupu dari mimpi kekata; melankolis.
Ri, aku suka.... Bagimu untuk tetap diam! Dan tampakmu jauh terdengar seolah-olah aku meratapi seekor kupu-kupu cooing seperti burung merpati. Dan kau-pun tak mendengar dari kejauhan suara hati yang menghubungimu. Biarkan aku datang untuk diam dalam keheninganmu...... Dan biarkan aku bicara kepadamu dengan keheninganmu, yang cerah sebagai lampu sederhana, ketika malam tiba; aku melihatmu di antara bintang.




Ri, aku suka..... Bagimu untuk tetap diam! Seolah-olah kau tidak hadir jauh dan penuh kesedihan. Jadi kau akan mati! Satu kata kemudian, seulas senyum cukup senang; bahagia bahwa itu tidak benar.
Ri, aku suka..... Bagimu untuk tetap diam! Mungkin kenangan tak menggulit. Sebab hari-hariku begitu sulit, saat aku merindukanmu tepat pada jantung hatiku tercekik; kau-pun tak berkutik.
Ah, Ri! Aku suka kamu.


12102016

Nasehat Kung-Kung

Kung-kung memberi nasehat kepadaku "Net, kata-kata yang keluar dari mulut adalah balamu, jadi kalau bicara itu harus hati-hati ya." Sembari meletakan cangkir teh yang habis dia sedu.
Lalu aku melontarkan pertanyaan, "Kung, bagaimana kalau orang bijak dari segi tulisannya langsung menjawab sedang pertanyaan tak tahu aneh-aneh lagi. Dan akhirnya jawabanya salah, apa dia mau di pandang pintar ya?."

"Baiklah dengarkan ya Net, kita tidak bisa mengendalikan cara orang menafsirkan ide atau pikiran kita, tetapi kita bisa mengontrol kata-kata dan nada yang kita pilih untuk menyampaikan mereka. Perdamaian dibangun pada pemahaman, dan perang yang dibangun di atas kesalahpahaman. Jangan pernah meremehkan kekuatan dari satu kata, dan tidak pernah sembarangan membuang sekitar kata-kata. Satu kata yang salah, atau kata disalahartikan, dapat mengubah arti dari seluruh kalimat dan memulai perang. Dan satu kata yang tepat, atau satu kata baik, dapat memberikan Anda langit dan pintu terbuka, dan satu hal lagi jangan memotong pembicaraan belum selesai lalu kau jawab, mengerti kamu Net?" aku-pun mengangguk paham.

"Iya ... iyaa Kung, seperti halnya daun mereka memberitahu rahasia. Kulit mereka menyanyikan lagu-lagu dari masa lalu karena tumbuh di sekitar batang. Dan akar mereka memberi nama semua hal. Bahasa mereka telah hilang. Tapi tidak gerak tubuh, bukan begitu Kung?" Kung-kung pun senyum-senyum.

"Intinya ya Net, jangan bicara dan mengajarkan sedang kamu tak bisa menjalankan jangan bangga dengan orang yang memberi motifasi sedang ia masih kekanakan."
"Iya Kung." jawabku.

Alhamdulillah masalah kelar.


13082016

Sepeda adalah Temanku

Kenapa aku suka naik sepeda? You know, bicycling isn't just a matter of balance, "I said." it's a matter of faith. You can keep upright only by moving forward. You have to have your eyes on the goal, not the ground. I'm going to call that the Bicyclist's Philosophy of Life.

Biarkan saya memberitahu Anda apa yang saya pikirkan bersepeda. Saya pikir itu telah berbuat lebih banyak untuk membebaskan perempuan dari apa pun di dunia ini. Ini memberi wanita rasa kebebasan dan kemandirian. Aku berdiri dan bersukacita setiap kali aku melihat seorang wanita naik sepeda. Dua hal favorit saya dalam hidup adalah perpustakaan dan sepeda. Mereka berdua bergerak orang maju tanpa membuang apa-apa. Hari yang sempurna; naik sepeda ke perpustakaan.

Tapi aku mendorong dan menarik sia-sia, roda tidak akan berubah. Seolah-olah rem yang macet, dan entah mereka tidak, untuk sepeda saya tidak punya rem. Dan tiba-tiba diatasi dengan kelelahan yang besar, terlepas dari hari mati ketika saya selalu merasa paling hidup, saya melemparkan sepeda kembali di semak-semak dan berbaring di tanah, di rumput, ceroboh embun, saya tidak pernah takut embun.

Naik sepeda itu sendiri beberapa perlindungan terhadap ketakutan takhayul, karena sepeda adalah produk dari alasan murni diterapkan untuk gerak. Geometri di melayani manusia! Beri aku dua bidang dan garis lurus dan saya akan menunjukkan seberapa jauh saya bisa membawa mereka. Voltaire sendiri mungkin telah menciptakan sepeda, karena memberikan kontribusi begitu banyak untuk kesejahteraan manusia dan tidak ada sama sekali untuk kutukan nya. Bermanfaat bagi kesehatan, itu tidak memancarkan asap berbahaya dan izin hanya kecepatan yang paling sopan. Bagaimana bisa sebuah sepeda yang pernah menjadi menerapkan bahaya?


10092016

Sebengis Kematian

Mengapa kau pergi dari hidupku, Ri? Sedang hatimu telah aku naungi. Tidak--kah kau berpikir diammu serupa bumi, tangisku bagaikan guntur yang gigilkan surga di langit tertinggi. Mengapa kau tinggalkan aku, sedang cintamu ada di sepenggal nyawaku? Hanya sebentar, sebantar saja! Tunggulah urusanku selesai.

Ri, hasrat telah mencibir kebimbangan, hingga desahnya meronta di sanubari. Gejolak jiwa-pun semakin menerka, kala kerlingan rindu kau tuah pada mindaku yang lara. Kemana aku harus bersandar, sedang dadamu penuh luka; sama.

Dengarlah suaraku kekasih, bait lara ini memanggil namamu. Ingatlah bahwa kau mungkin menemukan cinta yang lain, bila hatimu tak dengannya tak usah kau menerka; hatiku masih setia.
Pesona jiwa ini tercipta bukan sesaat, bahkan renungan-pun tak digubah oleh kesunyian. Kau tahu apa yang aku rasa? Sebengis kematian!

Detik ini tertahan di tasik dada, tambatkan aroma kamboja pada bentang rasa. Lalu..... Tungku harap--pun menyala, serupa rebah dalam peluk semesta, terhanyut tembang mesra melena; dalam kecup hangat yang tersemat "semoga kau bahagia"

22092016

Hening dan Diam


Kata-kata bisa diputar ke dalam bentuk apapun. Janji dapat dibuat membuai hati dan merayu jiwa. Dalam analisis akhir, kata berarti apa-apa. Mereka adalah label yang kita berikan hal-hal dalam upaya untuk membungkus otak kecil kita lemah di sekitar kodrat yang mendasari mereka, ketika sembilan puluh sembilan persen dari waktu totalitas kenyataannya adalah binatang yang sama sekali berbeda. Bukankah orang paling bijaksana adalah salah satu diam. Memeriksa tindakannya. Menilai dia dengan mereka.
Pernahkah kah mendengar keheningan indah sebelum fajar? Atau yang tenang dan tenang seperti badai berakhir? Atau mungkin kau tahu keheningan ketika belum menjawab untuk pertanyaan; telah diminta, atau keheningan jalan negara di malam hari. Atau jeda hamil dari ruangan yang penuh dengan orang-orang ketika seseorang hanya tentang berbicara, atau, paling indah dari semua, saat setelah pintu menutup dan kau sendirian di seluruh rumah? Masing-masing berbeda, kau tahu, dan semua sangat indah jika kau mendengarkan dengan seksama.
"Dan aku memang tak suka kebisingan!" Seperti yang terjadi kadang-kadang, saat menetap dan melayang dan tetap untuk lebih dari sesaat. Dan suara berhenti dan gerakan berhenti untuk banyak, lebih dari sesaat.
"Kau yang paling kuat, ketika kau paling diam. Orang tidak pernah berharap keheningan. Mereka mengharapkan kata-kata, gerak, pertahanan, pelanggaran, bolak-balik. Mereka mengharapkan untuk melompat ke medan. Mereka siap, tinju up, kata tergantung melompat dari mulut mereka. Diam? Tidak."
Dan saat ini memang sedang hening.

28092016

Hujan di September

Akhir september, di atas rumah nampak langit pergi dari abu-abu gelap ke hampir hitam dan guntur sekejap keras menyertai beberapa hujan pertama yang jatuh. Berat, hangat, tetes besar, mereka membasahiku dalam detik, seperti ember terbalik dari langit pembuangan hanya di kepalaku. Aku keluar, seolah-olah tak bisa menghentikan basah, dan membuka mulut, mencoba menelan hujan, sampai akhirnya menyentuhku bagaimana lucu itu.

Ini sangat lucu untukku, tertawa dan tertawa, sebagai keras dan bebas seperti yang aku inginkan. Alih-alih bergegas ke tempat yang lebih tinggi, aku melompat lebih rendah, turun dari trotoar, percikan melalui genangan air, bermain dan tertawa sepanjang perjalanan pulang. Dalam hidupku sampai sekarang, hujan telah berarti tinggal di dalam dan tidak bisa pergi keluar untuk bermain. Tapi sekarang untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa hujan tidak harus menjadi buruk. Dan apa lagi, saya mengerti, kesedihan tidak harus menjadi buruk, baik. Kalau dipikir-pikir, aku mencari kau perlu sedih; seperti yang ku butuhkan hujan.

Pikiran dan ide-ide kutuangkan melalui kesadaran. Rasanya bahwa kebahagiaanku adalah hampir menakutkan, seperti bagaimana aku membayangkan mabuk mungkin merasa - nyata konyol dan tidak peduli apa kata orang lain. Plus, perasaan bahagia selalu meninggalkan begitu cepat, dan kau tahu itu akan pergi bahkan sebelum dilakukannya. Kesedihan berlangsung leb

Ayah adalah Mimpiku

Women writers make for rewarding (and efficient) lovers. They are clever liars to fathers and husbands; yet they never hold their tongues too long, nor keep ardent typing fingers still.

"Ayah" bisikku, merasakan hela napas sendiri di tenggorokan. "Aku mencintaimu." tepat ketika aku yakin dia sedang tidur, dan salah satu sudut mulutnya terangkat tersenyum "Aku tahu itu," gumamnya. "Selalu tahu itu." bisik lirihnya.

Ada bulan besar bersinar di halaman, meninggalkan jejak perjalanan ke jalan dan sepanjang jalan. Ghadeer mengambil tanganku. Begitu ia menggenggam jariku, aku menyadari, ayah tidak pernah sekali memegang tanganku, dan beberapa bagian dari diriku ingin Ghadeer untuk membiarkan ku pergi, jadi aku tidak perlu merasa pikiran seperti itu. Mungkin terakhir kali aku merasakan pundaknya dan rebahan tangannya tepat saat kelas 4 SD.

Aku terus menerus merindukan sosok itu. Pikirku, adik-adikku sangat membutuhkan tangannnya untuk menuntun jalan benar: keyakinan agar aku tak
membencinya.
Aku mulai beranjak dewasa, sudah berani bermimpi. Menjadi profesor atau barangkali bergelar bahasa sastra dan inggris. Itu tepat ketika umurku menginjak 13 tahun! Aku terus mempertahankan mimpiku, ayah masih sama dingin dan panatik "Apakah aku ini anak bosnya atau anak asuhnya?" begitulah selalu kekata itu bermain dalam pikiranku, sesering-kali kutepiskan "Ah, mungkin ngurusin ke-2 adik laki-lakiku yang susah di atur." Aku harus terus meluruskan tekatku, sebuah keyakinan bahwa aku akan menjadi orang besar banyak uang.

Seorang Ayah sebaiknya menghormati wanita yang melahirkan anak-anaknya. Hal ini karena dia memiliki harta terbesar dalam hidupnya. Ayah mungkin telah pindah, tetapi anak-anak belum--jika kau tidak bisa menjadi belahannya, maka setidaknya menjadi bijaksana. Siapa yang mencintai anak-anakmu harus selalu menjadi seseorang yang kau mengakui dengan kebaikan. Anak-anak bisa melihat segala sesuatu dan akan mengikuti teladanmu.

***
Beberapa tahun kemudian, karena hari, waktu semakin berjalan. Iyaaa ... aku telah pulang dari luar negri. Sebuah tekat dan mimpi masih membenak, walaupun krikil-krikil masalah masih saja menghantamku dan debu masih mengintai mataku; aku masih bisa mengatasinya. Uangku banyak, apa yang aku mau bisa aku dapatkan. Namun tidak! Dengan hijrahku ke Jakarta menyelesaikan perguruan tinggiku. Seketika, entahlah ini yang aku sesalkan seumur hidupku. Aku di masukkan ke universitas dan jurusan bukan mauku, ya Tuhan..... harus bagaimana aku ini? 1 minggu bahkan selama 2 bulan setelah aktifitas aku langsung ke kamar. Aku belum bisa menerima kenyataan, bangkit ... bangkit ... bangkit! Entahlah.

"Bagi seorang pria, ayahnya adalah keberadaan dirinya sendiri. Kehilangan ayahnya berarti kehilangan dirinya sendiri. Dan bagi wanita ayahnya adalah cahaya mimpinya kehilangan ayahnya berarti kehilangan mimpinya."
"Fathers never have exactly the daughters they want because they invent a notion a them that the daughters have to conform to."

01102016

Sayang, Telphon Diriku!

Sayang..... Aku mungkin tidak memiliki cukup kekayaan untuk memberikan, atau jauh dari menjadi orang kaya. Tapi satu hal yang saya bisa menjanjikan padamu. Suaraku akan datang bila kau sedang merinduku. Ahhh aku, terlalu berlebihan! Padahal aku kesusahan jika merindumu.

Sayang..... Tidak peduli betapa mengerikan hari-hariku. Bahkan hanya mendengar suaramu semuanya akan berubah menjadi baik-baik saja.

Oh, Sayang! Aku sudah begitu sengsara. Kapan kau akan menelphonku. Hikzzzz ... hikzzz!
Sayang..... Jika surga benar-benar sebuah tempat, maka itu terletak di hatimu, bahwa tempat khusus, yang disediakan untuk saya; ah alangkah indahnya hidupku.

Sayang..... Cukup sering kau membuatku gila, tapi lebih sering aku hanya marah tentangmu. Dan itu Sayang, itulah cinta terbaik yang ada. Sayang, tidak ada lelaki lain di dunia luar biasa sepertimu. Aku tahu aku orang paling beruntung karena sekarang saya bisa menghubungi kapan saja; tapi gengsi wkwkwkwkwk.

Sayang..... Ketika diriku bangun di pagi hari, itu kau yang aku pikirkan. Sebab ketika diriku pergi ke tempat tidur, itu masih gambar yang aku impikan. Ah, aku selalu dalam madu pikiran, hanya karena--mu salah satu dari jenis. Aku cinta kamu!

Sedikit bila kata orang kata-kata gombal, jujur ini yang akan ku-utarakan "Aku lebih suka berada di dalam hatimu daripada di pikiranmu. Untuk pikiran bisa lupa, tetapi hati akan selalu ingat, aku sangat mencintaimu!"

Pertemuan denganmu adalah nasib. Menjadi temanmu itu pilihan, tapi jatuh cinta denganmu pasti di luar kendaliku; aku merindumu.

"Sayang, saaaayaang ... sayang!" sedikit merayu "Telphon Dinda" wkwkwkwkw

Efek habis nonton drakor.

Selamat datang; tinggal November!

Ketika saya berumur 5 tahun, ibuku selalu mengatakan kepadaku bahwa kebahagiaan adalah kunci kehidupan. Ketika saya pergi ke sekolah, mereka bertanya "Apa keinginanmu kelak, ketika kamu besar?" Saya menuliskan 'happy'. Mereka bilang aku tidak mengerti tugas, dan saya mengatakan kepada mereka mereka tidak memahami kehidupan.

3 tahun hampir usai, seperti tahun yang lalu ketika aku di diterasingkan. Lihat Datuk, Ghadeer telah memenuhi tugasmu. Banyak yang aku dapat di kehidupan ini, ketika uang bukanlah segalanya sumber kebahagiaan; ia adalah pendukung. Aku tahu, bagaimana kesepiannya diriku saat aku di abaikan, manfaatkan, bahan pergunjingan dan di lempar. Hmmmm ... mereka tak tahu nama asliku, itulah sebabnya mereka hanya mengenang nama kesukaanku. Aku hanya ingin itu hanya sepintas datang suatu pristiwa yang tumbuh mendewasakanku, sebapnya aku tak pernah ceritakan dan tunjukan biodataku. Aku terus merangkai cerita tentang sedikit tragedi di kehidupanku, tidaklah semua aku harap mereka janganlah tahu 'Saya ingin hidup tanpa uang, yang mereka lihat aku kekurangan; memang benar aku kurang'

Ada banyak orang yang membenciku di sini (LM), bahkan keributan kerap-kali gaduh saat emosi teduh. Aku terus menguatkan keinginanku, 'tugasku belum usai' kadang-kala sesekali terlintas 'Apakah ada manusia jenis-jenis begitu? Memperpanjang masalah, hobi benar makanya hidupnya sukar' aku terus mempelajari adakalanya kita salah untuk mengalah, hanya tak ingin memperpanjang masalah. Apa beratnya katakan "Iya, aku salah" toh itu yang me

reka cari?
Tanpa perbedaan kita tak akan tahu makna kasih sayang. Saya paling benci bila orang panatik mengguncing tentang agama! Biarkanlah itu adalah keyakinan, bukankah iman tak bisa di lihat; hanya ada di hati kita. Semua agama pada dasarnya ada satu kesamaan "mengajarkan kebaikan" bukankah begitu? Alhamdulillah, lagi-lagi aku dapat pembelajaran di sini.

Jika dunia hanyalah menggoda, yang akan mudah digoda. Jika itu hanya menantang, bahwa akan ada masalah. Tapi saya muncul di pagi hari terbelah antara keinginan untuk memperbaiki dunia dan keinginan untuk menikmati dunia. Hal ini membuat sulit untuk merencanakan hari.

Ada dua dasar kekuatan memotivasi: rasa takut dan cinta. Ketika kita takut, kita tarik kembali dari kehidupan. Ketika kita sedang jatuh cinta, kita terbuka untuk semua kehidupan yang ditawarkan dengan gairah, semangat, dan penerimaan. Kita perlu belajar untuk mencintai diri kita terlebih dahulu, dalam segala kemuliaan dan ketidaksempurnaan kita. Jika kita tidak bisa mencintai diri kita sendiri, kita tidak bisa sepenuhnya terbuka untuk kemampuan kita untuk mengasihi orang lain atau potensi kita untuk membuat. Evolusi dan semua harapan untuk beristirahat dunia yang lebih baik dalam keberanian dan terbuka hati visi orang-orang yang menganut kehidupan.


01112016

Ah! Aku Ini

Aku datang untuk menerima perasaan, tidak ku-ketahui ke mana mesti pergi? Dan aku telah melatih diri untuk menyukainya. Karena hanya ketika aku melayang di udara tanpa arahan terlihat, bahwa aku memaksa sayapku untuk mengungkap perasaan yang kian mendegub dalam-dalam; ingin kubebaskan. Tetapi yang ajaib itu ketika penyingkapan sayap.....

Aku berpikir tentang hal ini, seperti seseorang bernapas. Dan aku melihat bunga, lalu tersenyum! Aku tidak tahu apakah bunga-bunga itu mengerti perasaanku atau jika aku saja yang memahami mereka? Tapi aku tahu kebenaran yang nyata dalam mereka ada di saya. Ke-illahian membiarkan diri pergi dan hidup di bumi, membawaku dalam tangan-Nya. Biarkanlah angin bernyanyi lalu aku tertidur dan tetap memiliki mimpi.

Jika aku tahu aku akan mati besok, dan musim semi datang lusa! Aku akan mati dengan damai; sebab datang lusa. Jika waktu itu giliranku, kapan lagi harus datang? Saya suka bahwa segala sesuatu yang nyata dan semuanya benar, aku suka bahwa itu akan menjadi seperti ini bahkan jika saya tidak menyukainya. Jika aku mati sekarang, aku mati dengan tenang, karena semua adalah nyata dan semuanya benar.

"Hidup selaras dengan satu sama lain, membawa ketenangan lahir dan batin." itu pesan Ri selalu teringat. Aku tidak tahu akan berjodoh dengan siapa, entah dengan orang yang aku cintai atau? Mustahil, iyaaa ... Ri telah berjodoh dengan wanita baik. Apa yang lebih bahagia ketika kita berjodoh dengan orang lain? Namun diam-diam cinta kita tak pernah kelain: dua hati satu cinta. Saling menghormati jatuhnya takdir. Cintanya ada-namun semu dan cintamu ada-namun ranum.

"Kadang-kadang memaafkan seseorang itu bukan karena dia benar-benar menyesal dan pantas mendapatkannya, tapi karena kita layak ketenangan." hmmm ... mungkin begitu! Terkadang ingin aku enyakan lebih mendominasi keegoisanku dan ingin membalas, apa yang ia lakukan padaku. Tapi untuk apa? Bukankah yang mereka cari kemenangan? Hanya saja terkadang hati berbicara "di saat aku tahu kebenarannya, dan hukum tak bicara, biarkanlah aku belajar lagi sesuatu masalah yang tak bisa aku pelajari." Ah! Aku ini.
Ah ternyata sudah malam, Ri. Aku ingin mengucap "Good night"


09112016

Bidadari Sebrang Nusa

Ketika rembulan memintaku bercerita tentangmu, kusisihkan sejenak perasaanku padamu. Jika tak kusisihkan, aku tak akan bisa memulai cerita. Sebab, airmataku kan lebih dulu mengalir menghanyutkan kata-kata. Jujur aku kagum padamu sang Diva. Kau begitu kuat menggenggam asa, masih bisa tersenyum menghadapi duka; tertawa di tengah nestapa. Darimu aku belajar arti rela, menerima apa yang tak di pinta. Menghadapi duka tak selalu dengan airmata. Belajar, saat gulita tak menjadikan aku buta. Saat terpuruk tak lantas aku menjadi lupa memuja.

Tetapi kau tetaplah seorang hamba yang lemah. Ada kalanya kau terlihat sangat lelah. Merasa enggan melangkah, terlontar kata keluh-kesah. Bosan melihat lelehan darah, kemudian kau bermunajat menangis berserah. Menguatkan keyakinan yang hampir goyah dan kembali kau bertekad pantang menyerah.

Bangkit, bangkitlah bidadariku!
putuskan pilu yang membelenggu!
wujudkan mimpi indahmu!
raih dan dekaplah bahagiamu!

Doaku dan doa semua orang yang menyayangimu selalu menyertaimu sepanjang waktu. Ya, bagiku kau memang laksana bidadari. Tersenyumlah menyambut mentari pagi, semangat selalu meniti hari. Ceria selalu mengusir sepi. Bagiku kau sangat berarti, kehadiranmu membuat hidupku semakin berwarna-warni. Kau--pun menghadirkan banyak inspirasi. Menarilah selalu duh bidadariku, menghibur jiwa yang sunyi.

Dan setelah selesai bercerita, kembali airmata berkuasa. Aku menangis dan kulihat rembulan pun menangis. Tapi aku tak mengerti kenapa ia ikut menangis?


LM-01102014

Tuhan, biarkan aku lebih lama membuka mata, meski mata ini kerap kali berurai airmata, walau melihat lelehan darah tak di pinta, pastikan menyaksikan jarum runcing menusuk raga tak mengapa! Sebab, aku masih ingin melihat senyum orang-orang tercinta pun merasakan manis-pahitnya dan resahnya hati ketika rindu mendera jiwa.
Tuhan, ijinkan aku lebih lama bernafas, walau tubuh ini sering terasa lemas
wajah pucat pias, kadang aku jatuh terhempas dan selang infus membuatku tak bisa bergerak bebas ... rasa sakit seperti tak mengenal batas. Kadang aku juga merasa benci melihat tatapan-tatapan belas atau pun cemas! Lihat, aku ini masih bisa tersenyum dan tertawa lepas.
Tuhan, aku tahu ini ujian dari-Mu. Kuatkan keyakinanku dan berikan aku ketabahan dalam menjalani hidupku. Aku pun tak ingin membuat kecewa orang-orang yang mencintaiku, menyayangi dan mendoakanku.

Tuhan, bukan aku menyesali takdir atas diriku. Jika terkadang aku berkeluh-kesah kepada-Mu. Tapi rasa sakitnya kadang membuat hilang kesadaranku. Maaf ... maafkan aku yang sering lupa menyebut nama-Mu.

Tuhan, aku ingin hidup lebih lama lagi. aku masih ingin menghirup aroma bumi, melihat warna-warni kehidupan ini, mendengar lantunan puja-puji, menulis bait-bait perasaan hati

Tuhan, aku pun ingin memperbaiki diri, sedikit membersihkan debu di tubuhku ini dan ijinkan aku lebih lama lagi merasakan belaian kasih bunda nan abadi
.


Selamat tinggal Andien, Kakak dan Kakak Bunda selalu menyayangimu.
Semoga surga bahagia tempatmu, kita selalu merindumu, I love you

LM-05102014

Untuk Sebuah Nama

Perempuan penghuni malam itu diam terpaku. Matanya sendu menatap gundukan tanah merah basah. Kemarin hari, di iringi derai gerimis, ia mengubur sebuah rasa untuk satu nama.

Malam semakin larut, dedaunan bergoyang kalut. Tubuh perempuan itu nampak menggigil hebat. Bukan karena dinginnya angin malam, tapi karena kerinduan yang semakin mendahsyat. Lirih merintih ia berucap, "Ternyata aku tak bisa melupakannya ... aku sangat merindukannya. Biarlah meskipun sunyi, kan hidup di dalam hati."

Lalu, di iringi derai airmata kerinduan, ia pun menggali gundukan tanah merah itu. Tak dihiraukan tatapan kecewa sang pohon kemboja yang sejak kemarin rutin menaburkan bunga-bunga di atas pusara sebuah rasa....., untuk sebuah nama.


 02092015

Hijab Cinta

Wahai ikhwan yang melukis rindu atas kedamaian surga, atas nama Rabb ku; aku ingin mencintaimu karena-Nya, mengukir nama indahmu di bawah langit cinta-Nya, menulis hikmah dari pertemuan aku dan dirimu di atas sajadah cinta. Andai harus ku jabarkan bait hati yang tersembunyi seperti akhwat lainnya, sungguh ... tak cukup waktu yang Tuhan titipkan untuk semua cerita, hingga aku termasuk akhwat yang merugi karenanya.

Atas nama titah Tuhanku, cukup! Aku mencintaimu dengan sederhana, sepanjang hidup, aku ingin akidah kasih yang ada ini di ridhai-Nya. Tak perlu bagiku kau sampaikan gemuruh rindu itu dalam nyata, cukuplah kau jaga hijabku tanpa kata cinta sebelum ikrar yang direstui-Nya. Jika hati ini harus marah karena diam-mu untukku. Sungguh, jangan kau dekati hati yang tak pernah menghargaimu ini. Jika lisan ini di penuhi cela karena bisu yang istiqamah dari mu untukku. Demi Allah, aku merugi atas kidung cinta Tuhan yang tak pernah ku kenali. Terasing diri ini, jika nafsu itu menyelimuti!

Bersimpuh dalam renungan pada hubungan yang salah, meruginya raga jika harus kau buktikan cinta mu dengan pernyataan cinta atas hati. Karena cukuplah dalam diammu, bukti mahabbah rindu untukku. Namun, bila suatu hari kau datang dengan kalimah cinta, saat sebelum kau mengkhitbah ku? Ya, ikhwan ... Aku takut kau salah memaknai cinta karena-Nya, cara kita yang salah menempatkan cinta! Hingga terjatuh pada lubang duniawi yang menyesatkan.

Sungguh, karena cinta ini aku malu pada Tuhan-ku, tamparan cinta itu akan menjatuhkan harga diriku di sisi-Nya. Seketika itu pula diri ini seakan tak berharga. Karena kungkungan nafsu yang ku persembahkan pada mu berlumur noda atas cinta yang bukan hak-ku dan dirimu.

Wahai ikhwan yang menyentuh hati ku. Aku tak mengenali cinta dalam lisan. Karena bukan itu yang namanya cinta karena-Nya. Jika kau mencintai ku, cintai aku dalam diam mu, jaga hijab cinta antara kau dan aku. Dan jika saatnya tiba, ketika Allah takdirkan aku untukmu. Cinta sejati tak akan pergi. Semoga inilah cinta karena-Nya bersama ridha-Nya.

Wahai hati yang disirami cahaya Rahman, menuju Firdaus-Nya adalah impian dalam mihrab cinta dari-ku. Satu-satunya taman terindah yang menguasai sukma di tiap nafas yang berlalu. Hingga angan ingin ku melesat lebih jauh pada mahabbah-Nya bersama hadir mu.

Pasung hati ku, ya Rabbana, bunuh kata-kata cinta yang menjauhkan aku dari-Mu.
Ya, Muhaimin … jangan biarkan aku jatuh cinta pada selain-Mu, bila tak ada cinta dari kekasih-Mu yang merindukan Firdaus-Mu. Cukuplah hidupku mengalir dalam mihrab cinta ku pada-Mu.
by model 
Ya Al-Malik ... hati ini tiada yang lain kecuali nama indah-Mu. Sungguh, bilapun akan ada cinta lain di hidup ku. Jaga hijab cinta ku sebagai mutiara yang terjaga di altar cinta-Mu. Sebelum kau pertemukan aku dan kekasih-Mu di istikharah cinta.



Ya Rabb, jangan ombang-ambingkan hati hamba dalam hijab cinta yang masih terasa membingungkan jiwa. Karena sebenarnya hamba buta tentang makna cinta, dan hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui inti dari makna cinta yang sesungguhnya.
Wahai Cahaya yang mengalirkan cinta,
Izinkan hatiku hanya berlabuh di atas lautan ridho-Mu
Izinkan hatiku hanya merindu kekasih-Mu,
Izinkan hatiku merindu lebih dalam pada mujahid- mujahidah cinta-Mu,
Izinkan mihrab cinta ini ya, Rabbana.
Ya Rabb, pertemukanlah hijab cinta ini segera.
Aamiin.


22/12/2014.

Menantimu Menuju-Nya

Dan..... Ku tepis rasa yang sering datang melanda di sajadah cinta. Dan, ku telusuri indahnya penantian dalam doa, kala hati hampa dalam jiwa menghapus keteguhan di dada. merindu rupa dalam nestapa, meratapi cinta hingga terlena.

Lelah kini terasa Dan, cerita semakin meraja! Puisiku-pun tak ada keberadaan nyawanya. Hanya dirimulah yang selalu bertahta, menghancurkan diksi-diksi tiada bertepi, pergi; lalu sepi! Dengan kerendahan rasa malu-ku pada-Nya. Sebab aku mencintaimu membutakan hati terhadap-Nya. Sakiiiiit! Sampai di ujung napas, rasa yang kian tak bisa ku hempas. Lelah pikiran tiada labirin ku temukan menemuimu lekas bergegas.

Duhai engkau yang kusebut Dan. Ku-lalui waktu yang tersisa menunggu hingga akhir masa, sampai raga hancur binasah! Jasad abadi jemputlah di pintu surga. Aku hanya menggenggam keyakinan cinta berpijar tiada padam sinaran. Biar-pun jalan penuh liku ujian, langkahkan kaki dengan keikhlasan. Maka dengan pengakuan yang sebenar-benarnya;
'Aku pergi mencari-Nya, kusujudkan diri dalam sepi di istikharah cinta. Hembusan napas menyampaikan kata biarkanlah terbang bebas dan lekas hempas. Kita bukan jodoh dalam takdir namun aku memintamu tunggulah di pintu-Nya. Bila engkau mendengar suara tasbihku; balas.'
Biarkalah aku melihat wajahmu
17.07.2016