Pagi berselimut rindu, dedaunan tertunduk malu.
Burung-burung dan ayam hutan bersenandung sendu, merindu mentari yang masih
bersembunyi di balik awan kelabu. Pagi di Lambusir, embun pelan bergulir. Di
hembus angin semilir, membasahi tanah, cerita pagi pun mengalir. Pagi di awal
tahun, meski kabut tak turun. Doa-doa diucap tersusun. Semoga kebahagiaan
datang berduyun. Oh, aku rindu senyum sang arjuna. Seperti rindu sabana pada
sinar mentari. Menyambut menghangatkan hati di pagi hari. Kerinduanku pun
terhampar pada bait-bait sunyi.
"Dooorr!" Gertak Lailla kepada Rose yang sedang
memainkan jemarinya di keyboard.
"Ait-dah, dirimu La selalu saja, bikin jantungku mau
copot."
"Maaf ... Maaf! Yang imut-imut dan baik hati, cie--cie
yang mau nikah nih ya, mukanya berseri-seri?" Goda Lailla dengan
centilnya.
"Hmmm dirimu ini La kebiasaan, masih saja kelakuannya
gak berubah, gaya pakaianmu juga, kapan mau benahi diri?" Karena Rose
melihat Lailla memakai rok mini dan baju sangat mencolok, memberanikan bicara
gitu
"Oeeiih ikutan nimbrung dong." Suara Edoe dari
samping.
"Sang arjuna telah datang tuan putri Rose, Ananda
melapor." Lugas gaya candanya Lailla.
"Ah, dikau ini La, oh-ya aku kesini ingin menyampaikan
pesan, tadi habis dari kampus bentar dan ternyata dapat titipan surat untuk
Rose dari Pak Dosen." Jawab Edoe, sambil menyodorkannya pada Rose.
"Iya, Terimasih ya Doe, entar aku baca."
"Ya, sudah aku tak pulang dulu ya, kita kan belum boleh
ketemuan karena ini dalam masa pingitan, 3 hari lagi kita akan menikah
Rose."
"Semoga esok adalah hari bahagia kita Doe, sekalian tuh
anterin pulang putri Lailla ke rumah."
"Siap laksanakan Bos, mari Nona Lailla, heheh ... Maaf
canda."
Hari yang dinanti telah datang, akad nikah dilaksanakan di
masjid. Keluarga Edoe dan Lailla pun telah nampak dan tentunya kedua orangtua
Rose berserta penghulu dan saksi-saksi lain. Entahlah ada yang aneh dalam
pernikahan ini, SubhanaAllah Lailla nampak cantik sekali dengan gaunnya semua
aurat tertutup, hadirin tertagum-tagum melihat gadis tomboy dan selalu
mengikuti gaya model bisa berubah drastis. Penghulu pun menanyakannya kepada
orangtua mempelai wanita kenapa belum datang dan jam yang telah direncanakan
sudah lewat beberapa menit yang lalu. Hingga akhirnya Ayah Rose angkat bicara,
susana jadi hening setelah mengabarkan bahwa Rose tak akan ada dalam pernikahan
ini hanya meninggalkan sepucuk surat, dan kemudia dibaca oleh ayah Roes tepat
dihadapan mereka.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabaraqatuh. "Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” ( QS
Ar-Rahman ). Mengenal kalian berdua adalah anugrah terindah yang
tak bisa ternilai, engkau Edoe dan Lailla, maafkan aku semuanya yang telah
hadir di sini. Aku tahu kalian akan membenciku, tapi janganlah engkau menerka,
apa yang aku lakukan adalah kebahagiaan kita. Tak sengaja tadi malam aku telah
membaca blognya Lailla, sahabat tidak akan meninggalakan percakapan setelah
lama duduk diberanda. Aku mendengar ini
sangatlah bahagia, sahabat yang aku cintai ternyata mau berubah dan
menutup auratnnya.
"Kau hadir dengan sekeranjang cinta, dia datang dengan
segunung rasa, harus menoleh tapi bingung memilih asa; dua jiwa terzahir dalam
hati cinta. Dua jiwa satu hati, sama kasih sama menyeri. Dimana aku berdiri ada
rasa peduli, hatiku kekasih benar-benar menguji. Aku tetap memilih walau ada
luka, maafkan aku sayang karena menerka. Cintamu ada tapi dalam silauan cahaya,
cinta dia ada namun tidak menyata; aku berdiri di sudut penuh bahana. Ada cinta
tapi tiada pemunya, ijinkan aku menyata bahagia. Bersamamu dan dia keduanya
ceria, biar aku peluk; dua jiwa dalam satu hati."
Tanjungkarang 10.01.2015
