Putri Kuda Dan Kutu Banjj


SOSOK itu melangkah di keremangan senja. Tubuhnya tinggi semampai dan ramping. Langkahnya bergetar bagai puisi. Gaun putihnya yang panjang selutut, menyisakan bagian pundak yang terbuka. Kulit putihnya berkilat ditimpa sisa cahaya matahari. Angin semilir menyibak sebagian rambut yang menutupi wajahnya. Leher jenjangnya yang indah sesekali terlihat. Kakinya yang panjang menopang betis yang indah bak bulir padi, lidah ombak pantai meningkahi, menjilati ujung gaun dan kakinya yang telanjang. Sementara sepasang merpati putih terbang rendah di kiri-kanannya. Seolah-olah mengawalnya. Tangannya perlahan menyibak rambut, tampak samar terpancar keelokan parasnya. O, sosok yang memancarkan cahaya hidup. Namun entah apa yang terjadi setelah senja tiada ternyata gadis itu berubah berkaki kuda.

Ia tahu, masih harus menunggu jam-jam terlewati hingga malam tiba, jadi Putri Kuda terduduk lagi di sisi daratan. Dengan jarum rajutnya, dia terombang-ambing angin. Bukan ingin—nya mempunyai kaki Kuda. Dia pergi dari istana lantaran adik tirinya mengetahui, saudaranya berkaki Kuda. Kejadian itu sangat menggegerkan Istana. Raja sebenarnya sudah tahu sejak Putri Kuda lahir, mungkin ini memang kesalahannya, karena ketika Istri Raja hamil dia meminta Raja berburu dan ingin makan daging kuda. Untuk memenuhi istri tercinta sang Raja—pun pergi  kehutan, dan kemudian terlihatlah sekelompok kuda yang sedang memakan rumput. dengan kejelian berkat matanya  dalam sekejap ia dapat melumpuhkan apa yang dicari, anak panah lepas dari busur tepat pada sasaran Kuda yang sedang melahirkan. Tetes air mata pun tak membasahi Sang Raja, tak terkecuali juga Kuda itu sangat deras mengalir jerit dan tangisnya.

Dengan sangat bangga, Raja pulang membawa hasil buruanya untuk disantap Sang Istri. Setelah memakan daging Kuda, Istri Raja merasa mulas dan meringis kesakitan sembari mengelus-elus perutnya. Serontak Raja menyuruh pengawal untuk memanggil Tabit dan membawa dihadapannya untuk mengobati Sang Istri. Sebelum Tabit datang terdengarlah suara jeritan bayi dan Sang Istri. Raja—pun datang menghampiri, betapa terkejut, ketika melihat anaknya berkaki kuda, sedangkan Sang Istri—tak kuasa menahan sakitnya  hingga akhirnya meninggal dunia.

Raja memberi nama anaknya Greeta, lalu di bawalah bayi itu keterasingan, Di hutan yang tak pernah di jelajahi oleh manusia, di situlah ia tumbuh besar bersama pengasuhnya yang kian rentah. Sesekali Raja berkunjung hanya cuman melihat saja tak pernah bercakap atau tatap muka namun ketika Raja melihat kecantikan anaknya ada rasa iba menyelinap dalam jiwanya. Dan Ia—pun tahu anak itu akan berubah kakinya menjadi kuda ketika malam hari. Sang Raja membawa Greeta ke Istanah setelah Ia tahu hidupnya hanya seorang diri di hutan karena pengasuhnya meninggal dunia.

“Ada sisi yang memang akan dibiarkan gelap oleh seseorang sepanjang hidupnya. Bukankah rembulan pun juga malu menunjukkan separuh badannya yang gelap selepas purnama?”  Tentunya Sang Raja memperkenalkan anaknya kepada penghuni Istana. Dia sangat menjaga dan selalu berhati-hati agar tak seorangpun tahu tentang rahasia ini termasuk kepada istri  yang ke 2 dan anaknya. Namun tak berselang waktu lama Greeta tinggal di istana, lantara saudara tirinya mengetahui bahwa dia berkaki Kuda! Dan dia—pun meninggalkan istana. Setelah saudaranya menfitnah dan mengejeknya.

*****

Entah berapa lama Greeta terpekur di beranda. Ketika senja, Ia melebur bersama sunyi yang sejuk. Matanya menyapu pematang sawah di depannya. Sejauh jala mata memandang, apa-apa dijeratnya. Seekor bangau mengirap sembari melengking. Lengkingannya terdengar serupa ratapan. Sebab, tanah lumpur kering membentang luas. Tak ada mangsa sejenis katak, ikan atau pun serangga air lainnya. Seonggok pohon randu, satu-satunya, tegak berdiri di tengah sesawahan. Dedaunan tampak jarang menghuni dahan pohon. Kekekeringan telah menyesap hijau dedaunan menjadi kecoklatan. Beberapa buah kapuk randu menggantung di reranting. Kulitnya yang hitam sebagian masih mengatup. Sebagian lagi telah rekah. Greeta memaku pandang pada pohon randu. Didapatinya gumpalan putih meletik dari kulit yang retak. Angin yang berhembus menerbangkannya jauh-jauh. Sedang sisa dedaunan sekarat. Melayang-layang. Jatuh tertampa tanah kering berserabut. Serabut-serabut itu bercabang dan membentuk retakan besar di beberapa ujungnya. Masih digenggamnya tilas kenangan semasa kecil bersama  Nenek Wensae yang mengasuhnya sedari bayi.

Ada suara memecahkan lamunan Greeta. Dia telah berada di punggungnya. Entah sejak kapan Banjj berhinggap di belakangnya melangkah mendekat. Lantas di pipinya.

“Sesaat, ketika ada yang merintik pelan-pelan di secangkir kopimu yang sudah mulai dingin itu ‘hujan’ katamu. Itu aku yang mencoba menabrak kaca jendelamu. menari berputar bersama angin yang ingin, menyampaikan sebuah pesan yang semoga tak akan terlambat datang. ‘tersenyumlah—berbahagialah’ Putri.

“Siapa kamu?” sembari berdiri dan meletakan Banjj ditangan

“Namaku Banjj ... Kutu Banjj, aku seekor Kutu ajaib yang akan membuatmu tersenyum Tuan Putri, dan akan mengabulkan apa yang menjadi inginmu.”

“Baiklah Banjj, sekarang kita bersahabat.” Dengan seutas senyum arismetiknya terlontar.


“Benarkah?” Banjj melopat-lompat kegirangan.

“Ketika senja ini, ada selaksa haru yang labuh. memeluk gaduh sebaris kalimat yang kaubangun dengan segenap sungguh. Seperti mengemasi sisa hujan di atap-atap yang berkarat, kau riuh. Menarikku berdansa bersama kata yang tak sekadar kata-kata; menjelma kita, Terimakasih Kutu Banjj.”

*****

Ia melangkah anggun menyelusuri pantai. Mengenakan gaun terusan tanpa lengan dan berleher rendah, warnanya yang merah kontras dengan warna kulit yang putih bersih. Rambutnya yang hitam legam panjang sebahu, ujung-ujung rambutnya berayun, seperti berebut ingin menyentuh bahu pualam itu. Sementara itu kakinya yang jenjang menampilkan betis yang ramping karena gaunnya hanya sebatas lutut dan sandalnya yang berhak tinggi memperlihatkan ujung tumitnya. Parasnya nyaris tanpa make up, kecuali warna merah menyapu bibirnya. Sembari bercanda tawa dengan sahabatnya Kutu Banjj, kini tak lagi seorang diri setidaknya walaupun mempunyai sahabat seekor Kutu namun kesunyian yang meraja Putri Greeta bisa terobati. Tak ada lagi dibenaknya hanya satu ia ingin menjadi manusia normal dan kelak menjadi sang pemimpin menggantikan sang Ayah.

Perempuan berkaki Kuda itu pun kemudian larut dalam tangisnya. Sementara itu, ada seorang pria, seperti dalam perjalanan jauh, dipanggilnya  Jul, oleh salah satu temanya. Iya, mereka melakukan perjalanan menyelusuri pantai hanya bertiga. Mungkin mereka seorang nelayan yang sengaja singgah di tepi pantai tempat biasa Greeta mengusir sunyi dan menyendiri karena semayamnya tak jauh dari pantai itu. Malam pun kembali datang, hamparan langit maha sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa, namun satu bintang yang berpijar teruntai turun menyapa Putri Kuda. Mulut pria itu terus bergerak-gerak perlahan dan bahkan sangat terkejut ketika dilihatnya seorang gadis cantik berkaki Kuda. Jul terus mengikuti Putri Kuda dan memilih untuk pisah dari kawanya, Jul baru berhenti mengikuti langkahnya yang tertatih ketika dia berdiam pada sebuah nisan tak bernama. Lama dia mematung menatap gundukan yang basah oleh titik-titik air mata itu. Dinginnya angin malam yang menusuk tulang tampaknya tak begitu dia hiraukan. Dia tetap membisu di atas pusara yang entah milik siapa. Sementara, nun, di antara ranting-ranting pepohonan terdengar kicau murai yang berdendang merdu.

Pusara di hadapan Putri Kuda itu adalah Nenek Wensae yang telah pergi selama-lamanya.

“Sudahilah yang telah tiada dan ikhlaskan apa yang sejatinya telah meninggalkan kita.” Ucap Jul tepat dibelakan Putri Kuda.

“hekh—h ... hekh ... hekkh” isakan tangis “kau...?”

“Kenalkan namaku Jul,” menahan napas “tenang saja saya tak akan berbuat jahat.” Ucap Jul bernada tulus.

“Namaku Kutu Banjj Jul,”

“Apa?” Jul terkejut kenapa seorang wanita cantik bicara begitu.

Putri Kutu mulai membuka mulutnya.

“Ini adalah sahabatku,” dan sembari menunjukan ditangnya seekor kutu “ada perlu apakah kisanak kemari?” desahnya Putri Kuda.

“Saya berlabuh di laut ini karena kami ingin beristirahat setelah beberapa hari menjala tak ada hasilnya dan memutuskan untuk sementara bermalam di sini, namun saya terkejut melihat wanita sangat cantik berkaki kuda, maaf bukan bermaksud ... hmm ditambah lagi seekor Kutu bisa bicara.

“Aku memang ditakdirkan oleh Sang Kuasa begini.” Ucap Greetta lirih.

“Maaf, maksudnya ini sejak lahir Puan?”

“Namanya Putri Greeta Jul.” Jawab Jul yang sok kenal, mungkin dia suka karena Jul adalah lelaki baik.

“Oh ... Putri Greeta.” Dengan wajah berseri-seri seperti menunjukan dia menyukainya.

mungkin embun yang berkata
pada rumput yang basah
dan pada tanah yang lembab
tentang sunyi yang menyeruak
di antara pusara yang menyimpan
misteri jasad-jasad rapuh di lahatnya…

Mereka menjadi akrab, Jul dan Greeta sepertinya telah tumbuh benih-benih cinta pandangan pertama. Malam semakin larut tentunya teman-teman Jul mencari keberadaannya. Betapa terkejutnya mereka ketika ditemukannya Jul sedang bercanda dengan perempuan berkaki Kuda dan satunya ia tak tahu suara siapa? Mungkin mereka tak melihat kalau ada seekor Kutu. Salah satu seseorang dari mereka mengambir panah dan melepaskan tepat sasaran pada Putri Kuda. Putri Kuda meringis kesakitan dan Jul kaget ternyata yang membunuhnya adalah temannya sendiri. Jul—pun membabi buta, dan meraka melarikan diri sangat kencang.

“Tuan Putri bertahanlah, Aku mohon.” Sembari Jull meletakan tubuh Greeta di dipangkuan yang berlumurkan darah.

“Aku ... ahh—ahh, sakit Banjj ... Banjj.” Dengan dipegang anak panah yang menancap di perutnya.

“Putri .. Put bertahanlah aku akan mengobatimu.” Ucap Banjj lirih meminta

“Tak mungkin kau bisa Banjj, tombak telah tepat di jantungku.” Meringis kesakitan.

“Sudahlah diam sejenak, pernah kukatakan bahwa diriku adalah Kutu ajaib, dan aku akan mengabulkan permohonanmu agar kau bisa hidup dan menjadi manusia normal, namun nantinya kau tak akan bisa melihatku selama-lamanya, lantaran ini persyaratan satu-satunya.

“Tidak Banjj, kau adalah sahabat dan teman yang aku punya, tak ingin kau berkorban untukku.”

“Sudah cukup penderitaanmu Tuan Putri, biarkanlah Jul nantinya penggantiku dan akan tetap menjagamu, tenang saja aku tak apa.”

Ritual dimulai, memang benar Banjj adalah Kutu ajaib. Setelah Putri Greeta tertolong dan Banjj berhasil menyembuhkannya, kemudian ia lenyap dengan sendirinya. Putri Greeta sangat sedih kehilangan Banjj untuk selamanya.

*****

 
Kini, puaslah ia melihat dunia yang tak lagi hirau padanya. Tersenyum-senyumlah ia mengenang rentetan peristiwa dalam kepalanya. Tak seperti dulu, ketika ia masih menjelma perempaun berkaki Kuda.

“Pagi yang begitu cerah. Aku melihat semangat mulai tumbuh di wajah mereka. Semangat itu tak ubahnya seperti daun putri malu yang bangun dari tidurnya. Aku semakin yakin kalau kami akan sampai di sana. Aku sudah membayangkan keindahan itu, sebuah tahta megah dan makmur rakyatnya.” Ucap Putri Greeta, sembari Ayahnya meletakan mahkota di kepalanya. Karena setelah kejadia itu, Putri Greeta Pulang ke Istana dan menceritakan semua apa yang mendiang dalam dirinya termasuk Jul, ia pun setia menjadi pengawal Putri Greeta. Sedangkan Ibu tiri dan adiknya semua semakin terlihat bahwa hatinya busuk dan ingin menguasai kerajaan itu. Sebagai ganjaranya Sang Raja mengusir dan menterasingkanya di tempat yang tak pernah dijangkau orang.

Kita tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari cinta dan sahabat, karena cinta dan sahabat adalah sebagian dari asal manusia.



Tanjungkarang, 02.05.2015