Dear Aden,
Aden, apakah engkau baik-baik saja di sana? Masih kah menyulam
mimpi pada tirta desaumu yang tak mampu kuraba, saat perih telah tartil dalam
kecupan luka? Achh....., ternyata
aku-pun kalah mengurai takdirku! Kuncup mimpi yang kusedu berwarna
abu-abu Aden, tapi tak merubah titahku bertahan saat gulana menatahi gulita,
hening menyeruak nyeri dipangkalan hatimu. Dan cintaku padamu akan tetap abadi.
Aden, engkau pernah bertanya padaku “Maukah engkau Dinda,
menikah denganku?” maka jawabku “Menikah
adalah kesanggupan diri bersimpuh dengan renungan pada titah Tuhanku dan
bersitahan dengan keyakinan, dan saat benar aku menyanggupinya! Maka, diri ini
adalah milikmu seutuhnya atas ikrar nama Rabb—ku.” Tapi Aden, cukup dengan
diamku waktu yang Tuhan titipkan bukti mahabbah rinduku untukmu. Namun, bila
suatu hari kau datang dengan kalimah suci atas kesanggupanmu bukti cinta
karena-Nya, sungguh ... aku tak ingin pertemuan ini hanya kungkungan nafsu yang
berlumur noda atas cinta kita. “Pasung hatiku ya Rabbana, bunuh kata-kata cinta
yang menjauhakan aku darimu.”
Tahun yang silam, ketika sangkakala waktu menyairkan nafas
sederhana. Menyederhanakan bait-bait hati yang akan bertamunya menit dari
arloji, dan saat itu ... dengan puisi sederhana aku menyapamu. Sungguh demi
Allah jangan kau dekati hati yang tak pernah menghargaimu karena setatusmu! Aku
menemui destinasi abadi di wajahmu pekerti bersepuh, istiqomahmu terpuji . Kau
terbaik dari segalanya, semoga cinta kita sampai surga.
Jangan bertanya seberapa besarnya cintaku padamu, maka perlu
kau tahu atas cintamu yang menguasaiku. Tak kumunafikan, saat kita sama-sama
jengah dengan dengan keadaan ‘Mauku begini, maumu begitu’ letih menyungging
keyakinan dan akhirnya kita terpisah. Memang semua benar ... benar ... benar
salahku! Yang tak bisa memutuskan persatuan ini. Engkau perlu tahu kenapa
alasannya? Karena persyaratamu membuatku berkutik, aku bingung, tak mampu
menahta pada ruang itu! Tapi ini salahmu juga Aden....., kau tak pernah
bentangkan sayap-sayapmu tuk hengkang memagut sunyiku. Jubah malammu yang
meminangku dalam rebah sepi. Otakku perih bukan kepalangggggggg!!! Kuliahku
berantakan, dan kerjaku ambur jadul. Lambat laun aku—pun bisa mengendalikannya
, tapi sungguh tanpa dukunganmu yang selalu mengomeliku tak bisa aku semangat
seperti sediakala.
Engkau tahu? Saat diriku mendengar engkau telah menikah,
airmata ini tak mampu aku tahan, entah berita itu benar atau tidak. Karena
sampai sekarang aku tak berani menghubungimu membenarkan kerisauan dan kau sebaliknya. Aden, kita memang benar-benar tak bisa
bersatu. Kini aku memutuskan untuk ta’aruf, dengan seseorang yang pernah aku
kenal sekali, 5 tahun yang lalu. Namun, aku lupa wajahnya! Acchh ... jika Tuhan
memang benar berkehendak menyatukan, aku—pun Ikhlas, karena aku sudah lelah
dengan nama ‘cinta’ bulsssiit menurutku.
Aku akan pergi jika api cinta ini tlah padam! "Ah, bagaimana bisa api cintamu itu akan padam? Jika kau masih terus merindukannya. Bukankah kau pun tahu, rindu itu ibarat kayu kering. Takkan bisa api cintamu itu padam, duhai jiwa. Jika setiap kali meredup, kembali kau tambahkan kayu keringnya."
Sampai kapan kau duduk dalam penantian? Setiap malam melantunkan bait-bait kerinduan. Padahal angin berulang kali berkabar, dia tlah jauh pergi meninggalkanmu. Padahal kenyataan tlah jelas berkata, dia tak mencintaimu. Kau diam bimbang, bermacam argumen tengah berperang!
"Baiklah aku akan pergi, kupadamkan api cinta ini dengan airmata." Ah ... apakah kau tak tahu, airmatamu itu pun serupa minyak tanah? Semakin membesarlah nyala api cintamu itu. Berkobar-kobar menerangi sunyi, tapi sebentar lagi pun kan menghanguskan isi hati! Atau memang seperti itu yang kau inginkan? Mati terbakar api cintamu sendiri.
Tanjung karang, 10.08.2015
di tunggu balasanya