(Renungan) Ke-hidup-an

Jika hidupmu ingin mengalir seperti air. Jadilah air yang sampai pada lautan. Bukan air yang berhenti atau terhenti di dalam genangan. Sungai kehidupan ini panjang berkelok penuh bebatuan, pusaran, jeram, dan turunan dalam yang mau tak mau harus kau lalui tuk bisa sampai di lautan. Jika ingin mengalir seperti air, mengalirlah dengan keyakinan bukan hanya dengan kepasrahan. Sebab keyakinan akan mempercepat terwujudnya apa yang menjadi harapan. Sedangkan kepasrahan lebih cenderung mengombang-ambingkan perasaan, karena akan timbul berbagai macam pertanyaan manusiawi ketika apa yang menjadi harapan terasa lambat terwujud. Pertanyaan mempertanyakan hal kepasrahanmu pun akan muncul di hati dan pikiran. Setotal apakah dan tlah sebenar-benarnyakah kepasrahanmu? Sebab kepasrahan itu pun membutuhkan penerimaan hati yang benar-benar luas atas segala kehendak-Nya yang terkadang tak sesuai dengan hatimu. Pun, karena manusia itu tidak terlepas dari adanya keinginan. Jadi, (menurutku) hidup mengalir seperti air tidaklah semudah apa yang diucapkan lidah.
Aku tak ingin berbohong pada puisi. Berkata indah biar di puji. Berkata puitis biar di sukai. Berkata sendu biar mendapat simpati. Aku tak ingin berbohong pada puisi. Tapi masih saja aku berkata tak sejujurnya. Berkata sok agamis, tapi tingkah laku membuat miris. Berkata hakekat, tapi tingkah laku tak mengikuti syariat. Berkata kebaikan, tapi tingkah laku tak selaras ucapan. Berkata puja-puji, tapi tingkah laku tak terpuji. Duh, Gusti ... ampunilah dosa-dosa puisiku. Aku tak ingin berbohong pada puisi. Biar puisi tak memberatkan catatan keburukanku nanti. Aku ingin bisa jujur berpuisi, biar puisi menjadi pengingat diri. Biar puisi menjadi penerang hati, dan puisi tak hanya menjadi teman sepi.