Bidadari Sebrang Nusa

Ketika rembulan memintaku bercerita tentangmu, kusisihkan sejenak perasaanku padamu. Jika tak kusisihkan, aku tak akan bisa memulai cerita. Sebab, airmataku kan lebih dulu mengalir menghanyutkan kata-kata. Jujur aku kagum padamu sang Diva. Kau begitu kuat menggenggam asa, masih bisa tersenyum menghadapi duka; tertawa di tengah nestapa. Darimu aku belajar arti rela, menerima apa yang tak di pinta. Menghadapi duka tak selalu dengan airmata. Belajar, saat gulita tak menjadikan aku buta. Saat terpuruk tak lantas aku menjadi lupa memuja.

Tetapi kau tetaplah seorang hamba yang lemah. Ada kalanya kau terlihat sangat lelah. Merasa enggan melangkah, terlontar kata keluh-kesah. Bosan melihat lelehan darah, kemudian kau bermunajat menangis berserah. Menguatkan keyakinan yang hampir goyah dan kembali kau bertekad pantang menyerah.

Bangkit, bangkitlah bidadariku!
putuskan pilu yang membelenggu!
wujudkan mimpi indahmu!
raih dan dekaplah bahagiamu!

Doaku dan doa semua orang yang menyayangimu selalu menyertaimu sepanjang waktu. Ya, bagiku kau memang laksana bidadari. Tersenyumlah menyambut mentari pagi, semangat selalu meniti hari. Ceria selalu mengusir sepi. Bagiku kau sangat berarti, kehadiranmu membuat hidupku semakin berwarna-warni. Kau--pun menghadirkan banyak inspirasi. Menarilah selalu duh bidadariku, menghibur jiwa yang sunyi.

Dan setelah selesai bercerita, kembali airmata berkuasa. Aku menangis dan kulihat rembulan pun menangis. Tapi aku tak mengerti kenapa ia ikut menangis?


LM-01102014

Tuhan, biarkan aku lebih lama membuka mata, meski mata ini kerap kali berurai airmata, walau melihat lelehan darah tak di pinta, pastikan menyaksikan jarum runcing menusuk raga tak mengapa! Sebab, aku masih ingin melihat senyum orang-orang tercinta pun merasakan manis-pahitnya dan resahnya hati ketika rindu mendera jiwa.
Tuhan, ijinkan aku lebih lama bernafas, walau tubuh ini sering terasa lemas
wajah pucat pias, kadang aku jatuh terhempas dan selang infus membuatku tak bisa bergerak bebas ... rasa sakit seperti tak mengenal batas. Kadang aku juga merasa benci melihat tatapan-tatapan belas atau pun cemas! Lihat, aku ini masih bisa tersenyum dan tertawa lepas.
Tuhan, aku tahu ini ujian dari-Mu. Kuatkan keyakinanku dan berikan aku ketabahan dalam menjalani hidupku. Aku pun tak ingin membuat kecewa orang-orang yang mencintaiku, menyayangi dan mendoakanku.

Tuhan, bukan aku menyesali takdir atas diriku. Jika terkadang aku berkeluh-kesah kepada-Mu. Tapi rasa sakitnya kadang membuat hilang kesadaranku. Maaf ... maafkan aku yang sering lupa menyebut nama-Mu.

Tuhan, aku ingin hidup lebih lama lagi. aku masih ingin menghirup aroma bumi, melihat warna-warni kehidupan ini, mendengar lantunan puja-puji, menulis bait-bait perasaan hati

Tuhan, aku pun ingin memperbaiki diri, sedikit membersihkan debu di tubuhku ini dan ijinkan aku lebih lama lagi merasakan belaian kasih bunda nan abadi
.


Selamat tinggal Andien, Kakak dan Kakak Bunda selalu menyayangimu.
Semoga surga bahagia tempatmu, kita selalu merindumu, I love you

LM-05102014