Namanya Aylia. Perempuan, kurus, cantik, umur 30
tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mbak Ay,” ada juga yang memanggilnya dengan
”Teteh Lia”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar.Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Aylia, perempuan itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit gemetar bahwa itu pilihan ibunya. Ibunya hanya penjual bunga.
”Apa ibu anda penggemar wayang?” ada saja yang bertanya begitu.
”Saya tidak tahu. Dan saya juga tidak tertarik untuk bertanya,” jawabnya seperti biasa.
Dia sahabat sepermainanku, sejak masa belum sekolah, kemudian taman kanak-kanak, ngaji bersama, sampai kelas 3 sekolah dasar. Setelah itu, kami terpisahkan oleh nasib orangtua kami. Maksudku, aku terpaksa pindah ke Jakarta dan dia tetap di sana. Akan tetapi, nasib pula yang mempertemukan kami di tempat ini, Dusun kecil yang indah. Aku tinggal di dekat Bogor, dan ketika aku dan suami iseng-iseng mencari tanaman untuk rumah baru kami, aku dipertemukan dengan Aylia.
Begitulah, tanpa upacara, nyaris tanpa kata, aku bertemu dengan Aylia, yang masih lugu. Namun sejak itu—dua tahun lalu—aku sering bertandang ke kediaman sekaligus kebunnya. Hidup tercipta dari hal-hal kecil; kebodohan kami waktu kecil, yang berandai “Ingin terbang menuju bulan, jika tak sampai aku mendarat diantara bintang” maka jangan pernah mudah menyimpulkan tiap takdir yang datang. Karena tak ada yang tahu masa depan, karena tiap-tiap yang datang mungkin saja adalah bagian dari diri yang telah Dia takdirkan dalam ruang dan menit yang tepat. Seperti Aylia dulunya cuman satu batang mawar yang di berikan sesorang untuknya kini menjelma bertangkai-tangkai yang sangat indah.
***
Aylia dan mawar memang tak terpisahkan. Maksudku, Aylia adalah sahabatku, dan siapakah mawar? Bukan siapa-siapa, karena memang bukan manusia, tetapi tanaman. Mawar kampung.
”Kenapa?” tanyaku, suatu kali.
”Apanya yang kenapa?” jawabnya sambil membuat wadah dari sabut kelapa dan pelepah pisang untuk bibit. Tangannya sangat terampil menciptakan wadah-wadah sederhana itu.
”Mawar. Kenapa bukan Anthurium, atau Anggrek Hitam, misalnya?”
”Sudah pernah dan ketika anthurium merajai pasaran, aku bisa beli tanah ini, seluas ini,” ujarnya datar saja, tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya. Kupandangi tanah seluas seribu meter persegi di tepi jalan itu. Ada patok-patok kayu.
”Mereka mau membangun mal,” ucapnya dingin.
”Maksudmu?”
”Mereka memaksaku untuk menjual tanah ini dan membangun mal di atas lahan ini.”
”Hmm … kalau harganya bagus, kenapa tidak dilepas.”
”Harganya bagus. Tapi aku tidak mau melepas.”
”Kenapa?”
Dia diam, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sedikit kesal. ”Lantas di mana aku menanam mawar-mawarku?” ketus jawabnya “ dari gunung yang tegak berdiri di atas sana akan ada bukit, yang menanti gerak; mawar merah sebuah kenangan, sahabat lama dalam perpaduan, kasih kalian tersimpan dilipatan, tidak terganti waktu kehadapan, teruntukmu mawar simpanlah aku sebagai penawar bunuhlah petir dan halilintar, agar hatimu tidak berteman pudar. Dari ladang gandum berombak dihembus angin; mawar, lambang agung prasada cinta pengganti suara hati menyata penuh pesona menggoda sukma rebah asa tanpa rasa membahana, aroma mu membangkit ghairah, terlena dalam lunglai seribu resah, memukau suasana penuh seri menerjah, baunya mudah membunuh gelisah.”
***
Sepulangku dari kediaman Aylia, aku tak bisa tidur. Aneh, manusia satu itu bicaranya membuatku tak mengerti. Kuperkirakan, dia bisa mengantungi sedikitnya dua miliar; dengan luas dan posisi dekat jalan raya, dan dengan uang itu dia bisa membeli tanah yang lebih luas … lebih daripada cukup kalau untuk menanam mawar kampung! Gila.
Tapi, entah mengapa, aku diserang rasa gelisah. Ada yang begitu murni, bodoh—mungkin—dan rasa cinta yang tulus, ketika dia mempertanyakan di mana akan menanam mawarnya. Ah, jangan-jangan aku sudah tertular penyakit gila yang dideritanya. Sangat tidak masuk akal. Sangat bodoh.
***
Beberapa bulan berlalu, aku tidak main ke rumahnya. Dari rumah tinggal yang dicat dengan pertanda merah, melambangkan kelopak halusnya sangat cantik, penuh wibawa dalam suasana menarik semua hati akan tertawan, tertarik akan indahnya tanpa rasa resah carik. Dari sarang burung yang pernah ada di tepi atap rumah; tanpa musim kau menjalar dalam sejuta cuaca pilar kau mawar adalah penawar mengikat dua hati tanpa rasa pijar.
Mungkin karena jengkel, mungkin juga karena merasa berhadapan dengan orang sinting, aku tidak berminat menemuinya. Tapi, mungkin juga karena aku memang ditelan kesibukan pekerjaan. Aku harus mengawasi proyek, yang kadang-kadang membuatku berhari-hari di luar kota. Ketika pulang pun, aku hanya bisa bertemu dengan kesunyian rumah dan si Min, pembantu kami, karena suamiku pun ditelan kesibukan kantornya, dan saat itu dia di Makassar.
”Dua hari yang lalu, ada orang ke rumah, nyari Ibu…” ujar Min sambil membongkar tasku.
Aku diam, mencoba menikmati kehampaan yang tiba-tiba menganga ini. Kusimak pembicaraan Min dan aku tahu bahwa orang itu pastilah Aylia. Apalagi ketika kutanyakan apakah di wajahnya ada tai lalat kecil dan Min mengiyakan sambil tertawa, aku yakin, orang itu pasti Aylia.
”Keberatan nama Bu, Aylia, kok, nyekingkring.” tambahnya sambil tertawa geli sendiri.
”Ada pesan apa?”
”Ndak ada…, dia cuma bilang, ‘o, ya, sudah’ terus pulang.”
***
Lama setelah itu, aku masih saja belum sempat menemui Aylia. Aku mau telepon, tapi seingatku, dia tak pernah memberiku nomor HP. Manusia primitif satu ini memang istimewa sekali.
Sementara itu persoalanku sendiri dengan Nathan—suamiku—muncul lagi. Persoalan yang sebetulnya sudah bisa diduga dan diurai dengan mudah, tapi, sekali lagi, emosi dan tenaga kami habis disedot pekerjaan. Siang dan malam hanyalah soal terang dan gelap belaka. Rumah berkamar tidur dengan pendingin udara, bahkan bukan sebuah kesejukan di rumah kami. Kami adalah dua orang yang saling bermusuhan diam-diam dan menyembunyikan diri di balik laptop atau BB, untuk saling … entahlah. Aku bahkan kehilangan semua kosakata, dan anehnya dia yang dulu terkenal bawel—dan itu yang membuatku jatuh cinta—kini lebih bisu daripada batu.
Aku sendiri sudah tidak tahu lagi, sudah berapa jauh jarak kehidupan cinta kami terentang. Sejak kapan hal itu dimulai, kurasa dia pun tak punya jawaban. Yang ada hanyalah kami harus punya foto perkawinan yang bahagia, senyum manis tak terkira dan handai taulan, sanak saudara, kenalan, relasi, bos menganggap kami manusia bahagia yang patut dijadikan contoh.
Beruntunglah Aylia, barangkali dia tidak menemukan neraka itu di rumahnya, karena dia hanya mengikatkan diri pada mawarnya.
***
Siang itu di proyek, yang kurasakan adalah tusukan sepi yang luar biasa. Di kantin, ketika makan siang, mataku tertuju pada televisi yang menyiarkan peristiwa. Ah, ini membuatku kian merasa terpuruk menjadi manusia; apa sebetulnya yang ingin kucari? Protes, demo, penembakan oleh aparat, korupsi, artis dilecehkan, wartawan dan pelajar saling jotos, guru menggampar murid, murid membunuh guru ... coba sebut satu saja yang mampu memberikan harapan hidup lebih baik.
Tapi, ketika seorang penyiar menyebut satu nama—sambil sedikit tersenyum, aku seperti tersengat lebah. Aylia jadi berita. Ah, pastilah kasus tanahnya. Ah, bagaimana dia? Kusimak berita, tapi tak kulihat si Aylia. Hanya ada massa yang kulihat mendukung Aylia—di halaman Kantor Pengadilan Negeri.
***
Entah mengapa, berita tv siang itu menggangguku; paling tidak, telah berubah menjadi semacam isu di antara kami. Sambil makan malam bersama kolega bisnis properti dan beberapa investor, percakapan tentang Aylia menjadi bagian dari menu malam itu. Aku tentu saja harus bersama Nathan, yang sejak semula harus merasa bahagia bersamaku.
”Nathan, coba kalau kamu punya tanah seluas itu dengan harga jual yang sangat bagus—di atas NJOP di wilayah itu—kamu bertahan?” ucap bosku sambil menyuapkan potongan steak ke mulutnya.
Nathan hanya tersenyum saja, menjawab tanpa jawaban. Sempat kulirik senyumnya. Masih senyum yang dulu kukenali dan kusukai. Sesaat kemudian pandangan kami bertemu di suatu sudut yang dulu pernah kami singgahi; sudut kecil saja di kenanganku—paling tidak.
”Kalau saya, maaf, tanah itu tidak akan saya jual…” entah mengapa, aku tiba-tiba seperti didorong oleh tenaga aneh, meloncat begitu saja dari mulutku.
Meja makan seperti tersiram es. Aku tahu, tak seorang pun boleh membantah ucapan bosku, karena dia adalah bos.
”Mmm … bukan itu jawaban yang aku harapkan, apalagi dari kamu. Tapi, tolong, buat aku bisa memahami ’kebodohan’ yang…” dia menebar pandangan kemudian tertawa, diikuti orang semeja. Kulihat Nathan salah tingkah.
”Hmm..., (aku menelan ludah) maksud saya, saya paham pada apa yang dilakukan Aylia…” jawab Nathan
”Ooo, jadi kamu kenal juga dengan si Aylia?” sela bosku, yang melanjutkannya dengan gelak tawa.
”He’em … ya, Pak. Dia sahabat sepermainan…”
”Maaf..., bilang sama Aylia, dia boleh saja menikmati kemenangannya kali ini. Tapi itu tidak lama…”
Di perjalanan pulang, aku membisu. Nathan membeku. Entah mengapa, aku merasa tiba-tiba menjadi ancaman bagi Aylia.
Nathan membuka pembicaraan yang membuatku merasa kian bodoh. Bermula dari celaannya tentang mengapa aku berkomentar tentang pertanyaan yang bahkan bukan untukku, sampai sebuah hubungan antara kantorku dengan Aylia yang selama ini sama sekali tak kusadari.
”Makanya, jangan asyik sendiri. Jelas sekali, siapa pun tahu kalau kantormu itu gurita dengan sejuta tentakel. Terus mau apa? Demi Aylia dan mawarnya itu, kamu mau apa?”
Aku diam. Aku hanya ingin sampai di rumah.
***
Sejak peristiwa makan malam itu, aku jadi makin kehilangan kegembiraan bekerja. Semua perhatianku, bahkan mimpiku, tersedot pada Aylia dan mawarnya. Dan entah mengapa, di mata bosku, aku seperti duri dalam daging. Kusadari semuanya tanpa perasaan apa-apa. Kuterima semua penilaian atas dedikasiku selama ini, dari bosku, dengan jiwa kosong. Aneh juga rasanya, tapi itulah yang kualami. Termasuk ketika bos menawariku posisi lain di salah satu perusahaannya yang lain—untuk menghilangkan ’duri’ yang ada di ’daging’-nya, aku menolak dengan halus. Aku memilih duduk di samping Aylia yang tenang membuat wadah-wadah sederhana dari tapas kelapa dan pelepah pisang.
***
Itulah yang kulakukan. Dan ketika aku sampai di rumah Aylia, aku dibuat terperangah. Rupanya, selama ini, ketika proses pengadilan berlangsung, pihak ’pembeli’ bahkan sudah membangun bangunan, memang belum finishing, tapi bangunan itu sudah berdiri. Ya, Tuhan, sudah berapa lama aku tidak berhubungan dengan Aylia?
Dan bangunan itu, oleh Aylia sengaja tidak dihancurkan. Orang gila satu ini memang selalu aneh-aneh. Dia bahkan menggali tanah di sekeliling bangunan belum jadi itu dan menguruk seluruh bangunan itu hingga menjelma bukit. Bukit tanah merah yang dikelilingi parit dalam.
Kusaksikan orang-orang kampung yang mendukung tindakan Aylia di pengadilan sibuk melakukan ini--itu. Kami duduk di tanah menatap ’bukit’ yang baru lahir itu.
”Apa yang akan kamu lakukan dengan bukit ini?”
”Bayangkan, Yun. Ini nanti akan jadi bukit mawar. Seluruhnya aku tanami mawar kampung.”
”Seluruhnya?” dan kudengar Aylia tertawa bahagia. Kemudian dia menyambung bahwa parit yang lebar dan panjang mengelilingi bukit ini akan jadi lahan pemancingan, yang mengurusi nanti adalah–dia menyebutkan beberapa nama yang kuduga orang kampung situ.
Sambil membayangkan di sana-sini muncul warung makan kecil, dan orang-orang makan ikan bakar, atau sekadar minum kopi, mereka menikmati ”keajaiban dunia”: bukit mawar. Aylia bukan hanya membangun keajaiban, bukan juga membangun mimpi, tetapi harapan bagi orang banyak. Aku jadi kian merasa tak ada apa-apanya berhadapan dengan anak janda penjual bunga di makam ini.
”Terima kasih, kamu mau datang,” ucapnya dengan senyum mawarnya. “mmm … ngajak mas Nathan, ya…”
Nathan menyusulku? Dan kulihat Nathan gembira, gelak tawanya lepas, seperti murai yang berkicau di pagi hari, dia pun mengoceh dan mengoceh. Aku terkunci dalam kebingunganku sendiri.
”Aku suka ini. Aku gembira ada yang bisa memutus rantai kebekuan. Dan aku bangga, kau pun melakukan itu.” Ucapnya dengan wajahnya, yang—ah, kenapa jadi tampan sekali?
”Aku tidak melakukan apa-apa…”
”Kau keluar dari gurita raksasa, itu adalah sebuah perbuatan gila, sinting, tapi benar. Dan … aku bangga bahwa aku masih punya seseorang yang mau berbuat benar.”
”Meskipun gila?” godaku.
”Plus sinting dan nekat,” tambahnya diikuti gelak tawa.
***
Setelah dia jelaskan apa yang akan dilakukannya dengan bukit itu, dia pun merangkak memanjat bukitnya. Di tangan kanannya tergenggam sebatang mawar.
Sebuah ritual pun dimulai “Mawar aku mencintaimu, kenangan semalam amat berharga tidak terbeli dengan apa-pun juga, simpanlah aku sebagai lagenda, aku janji qalam senantiasa bersama, bahagia kini karenamu kenangan” teriaknya yang tak membuat aku mengerti, kata-kata ini pernah aku mendengarnya dan kulihat suamiku tersenyum lepas. Iya! Puluhan tahun yang lalu, aku masih ingat betul, kata itu iya lontarkan teruntuk Nathan.
“Diam! Kalian ... kalian ... kalian berdua” suara tersedu-sedan“membohongiku” teriakku
“Tak paham aku, dengan bicaramu Yun, kenapa?” tanya Aylia
“Mengapa ... mengapa kalian lakukan ini padaku? Aku menjadi orang pendosa menghalangi cinta kalian berdua!”
“Tenang dulu Yun, bisa Mas jelaskan, kit ... kita tak ada hubungan apa-apa” dan berusaha Nathan memelukku, seketika kualihkan tangannya dari pundakku, aku semakin terpuruk. Dan Aylia lebih memilih diam.
Dari debu; aku tetap memilih walau ada luka, mungkin netraku buta, maafkan aku sayang karena menerka, cintamu ada tapi dalam silauan cahaya, cinta dia ada namun tidak menyata, aku berdiri di sudut penuh bahana. Dari bayangan pohon ara; ada cinta tapi tiada pemunya, memohon kesempatan untuk tumbuh berbuah dengan sendirinya, aku berdiri teguh biar usang, mawar lambang lagenda kenangan, umpama hati ditusuk duri hidup walau hampir mati, mawar harummu beraroma sekuntum rindu yang terbentuk dalam istana syahdu.
Dari mengamati keajaiban ini; ternyata benar, sedari
kecil aku dan Nathan telah di jodohkan oleh orang tua kita, akupun tak bisa
mengelak, se--tahu kami kita saling mengenal. Aku tahu bahwa Ayahku akan
merangkai sulur anggur; oplosan belum tentu memabukan, seteguk kasih yang
mengundang kepayang begitulah sisi lainnya karena melihat ketampanan Nathan,
Ayah tak ingin anaknya salah melangkah, dan kebetulan pula orangtua kami telah
bersahabat.
Sedangkan Aylia, wanita cantik yang sederhana mempunyai paras jelita, di hatinya tersimpanlah purdah bijaksana yang tinggal di bukit mawar. Bak Ibu mengepang rambut anak daranya dan tentunya tegak teguh setia dengan jiwa pekerti, bahwa benar buah tak jatuh dari pohonya.
Beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk menceraikan Nathan, setelah kami bertiga terbuka satu sama lain, aku bahagia dengan keputusan ini, pada akhirnya bukit mawar adalah lambang persada persahabatan kami, walaupun awalnya aku menentang! Tapi aku telah menyadarinya akan cinta sejati. Dan aku memutuskan menetap di Seoul menjalankan kelangsungan bisnis Ayah.
Jika ada kata-kata terlahir dari dalam labirin kepala, lalu ia mengalir menuju hilir yang entah. Jika puisi dan prosa tercipta, lalu kau mulai membaca, memahami, dan menerka-nerka isi hatinya. Cinta sejati itu pasti akan bersatu, entah kapan masanya.
|| Tanjungkarang, 06.04.15
Sedangkan Aylia, wanita cantik yang sederhana mempunyai paras jelita, di hatinya tersimpanlah purdah bijaksana yang tinggal di bukit mawar. Bak Ibu mengepang rambut anak daranya dan tentunya tegak teguh setia dengan jiwa pekerti, bahwa benar buah tak jatuh dari pohonya.
Beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk menceraikan Nathan, setelah kami bertiga terbuka satu sama lain, aku bahagia dengan keputusan ini, pada akhirnya bukit mawar adalah lambang persada persahabatan kami, walaupun awalnya aku menentang! Tapi aku telah menyadarinya akan cinta sejati. Dan aku memutuskan menetap di Seoul menjalankan kelangsungan bisnis Ayah.
Jika ada kata-kata terlahir dari dalam labirin kepala, lalu ia mengalir menuju hilir yang entah. Jika puisi dan prosa tercipta, lalu kau mulai membaca, memahami, dan menerka-nerka isi hatinya. Cinta sejati itu pasti akan bersatu, entah kapan masanya.
|| Tanjungkarang, 06.04.15