Ada benih yang bersemi di ladang tandus jiwaku.
Saat kau buka jendela belantara rimba di hati. Aku yang keronta akan
dahaganya cinta. Luluh bersemi kala kau semai seutas rasa. Bagai
tersirami ilang-ilangku yang telah mati. Seketika berterbangan membawa
rasa yang terpendam di dada. Dan kuhirup lagi alunan indahnya pelangi.
ketika kau jejaki retakan rindu yang kau pugar menjadi kidung syahdu.
Sewindu ku lalui waktu cepat berlalu. Tak terasa bunga-bunga telah
terbuahi. Wanginya melukiskan keabadian di pelataran mimpi. Aku terbuai
oleh parasmu duhai kesatria. Ruang dipadang gersang ini telah kau
semayami. Berubah menjadi taman yang penuh dengan cinta. Namun kenapa ku
tak bisa memiliki mu seuntuhnya? Kau hadir di kala beranda maya ku
sepi. Dan setelah pesta panen telah usai. Dirimu sirna di telan keraguan
Kegelisahan di hatiku kurasakan begitu. Karena cintaku seakan terlarang
untukmu. Tak dapat kumiliki seutuhnya. Cinta yang kupunyai seolah-olah
tiada arti. Telah aku anyam lamanya menatap langit. Berharap tiada lagi
mendung menghimpit. Aku lepaskan lelah di atap asaku yang telah sempit.
Sekejap ku sirnakan letih peluhku di alunan lamun senja.
Tiada
lagi ku ketahui bongkah rindu ini, telah menjadi benih perih. Mengukir
gelisah di rapuhnya batin tak terobati. Hanyalah pesakitan telah membatu
tergeletak tepat ada di dalam palung jiwa. Aku semakin tertimbun,
terbelenggu ruang di atas rindu yang begitu hampa. Sempat 'tuk
kulintaskan saja namamu kemuara. Namun tiada kuat ku menahan kuasanya.
Aku rindu meski kadang cinta terasakan sembilu
Indahnya tetap
membiru di penghujung penantianku. Akan hadirnya cahaya di atas temaram
mutiara biruku. Yaitu cinta yang membawaku tuk menuju pintu bahtera
kebahagiaanku. Yang terkadang kutelaah, cinta itu bulshit! tetapi
sejatinya tetap ku merinduinya.
||08052014
