Ketika hening mengakrabkan diri. Malaikat kecil menghampiri. Cahayanya
menerangi hati. Aku malu engkau melihat apa yang ada di dalam hati. Ada
namanya tergurat dalam di dinding hati. Sedangkan namamu, entahlah apakah
ada di hatiku. Duh, apakah engkau cemburu?
Hening semakin sunyi.
Angin berhembus menarik nafas. Hati berdesir, bayangan wajahnya
hadir. Tanpa sadar kusebut namanya. Aku lupa menyebut namamu. Malaikat
kecil sedih. Duh, apakah aku mendua?
Kenapa aku masih
mempertahankan cintaku? Kenapa aku masih setia menunggu? Kenapa aku
masih senang bermain rasa? Padahal yang kudapatkan luka. Airmata
ternyata belum juga bisa menghanyutkan cinta. Duh, apakah engkau marah?
O, malaikat kecil....., jangan kau pergi meninggalkan aku.
Rela tak rela
seharusnya aku bisa menerima. Ikhlas tak ikhlas seharusnya aku bisa
melepas. Jika mencintainya membuat aku jauh darimu. Jika merindukannya
membuat tubuhku kaku menghadapmu
Langit hening. Bulan gemintang
diam tak bergeming. Butir tasbih tak berdenting. Malaikat kecil
menangis, aku tak juga eling.
