Catatan Akhir Desember

Serupa Sakura, flamboyan adalah rekah kembang di bulan-bulan kenangan, hanya saja, sakura mencecah pada batang musim semi, sementara flamboyan turut hiasi jalan kenangan, tatkala hujan mulai merintik rindu saat Desember.

Pada rongga jendela yang terhimpit waktu, aku berbisik, tentang sepotong janji sepenggal cerita (asa, kata) kehidupan. Jemariku menari di tengah beberapa retorika, diary merah jambu menjadi saksinya, tarian malam mengisahkan tangis Dona Kesturi. Dimana, setelahnya angin mengantar, semilir aroma seikat melati, benih rindu yang kemarin ia titipkan kepada semesta. Di balik cermin air mata ini mengalir, lengkapi malam yang tak henti menebar isak. membuat detak jantung memburu, berpacu, seiring merah bara. Arrgggh aku ingin menjerit semampu dan sebisaku, namun serentak jiwa mencegahnya, "Jangan menangis lagi, Dona!" Biarlah kemarin pesona yang hadir dalam setiap simbol tangisan, menjadi satu alasan. Karena serupa dibalik cahaya selalu ada jeda bernama gulita. Jendela buram menjadi tempat singgah, sebuah penantian. Bukan ingin menahan laju hari, atau membalik putaran arloji. Hanya mengagumi sebentuk damai atau sekedar mengumpulkan secerca harapan lembar mimpi. Serupa permohonan kurcaci pada satu pertiga purnama.

Semusim sudah aku merajut benang kasih. Memintal rindu di tebing harap. Bila pun harus kuyu memetik gerimis menghapus jejak. Mungkin itu takdir yang telah tercoret dalam kanvasku. Serumpun kasih yang aku semaikan di pilar hatimu. Akan menjadi catatan terindah dalam hidupku. Walau akhir cerita ranggas menuai ngilu di pangkalan hati. Tintaku tak lagi ada untuk melukis warna. Diantara jejak yang kau tinggal. Biarlah pekatku bersetubuh dengan waktu. Meminang Heningku tertunduk di tepian Asa.

Harus aku lepaskan kebelengguan yang menjerat jiwa, di antara radangan bak tak bernyawa. Merindu yang sisakan waktu tunggu. Merapuhkan asa keputik jenuhku. Harus aku ikhlaskan, apa yang menjadi jawaban dan menjadi sebuah penentuan di antara liuk pikuk kehidupan karena ini adalah sebuah perjalanan. Aku harus membuka mata di pelataran dunia nan megah, yang terbentang di antara duka cita, tangkai impian dan harapan yang ada. Ketika semu hanyalah dalam riuhnya pesta. Aku harus relakan yang terjadi, ketika tabir gelap, ketuk hati! Menyajikan tembang pilu untukku, yang mengajari dan manasehati jiwaku, dalam arti sebuah pengalaman kisah nan baru.

Kini malam hujan turun lebat, membasahi pepohonan, air menetes di celah dedaunan, rindukan kekasih hati dalam ratapan. Sedalam masa lalu yang tergugah, kisah hitam yang ada di titian perjalanan, di deburan ombak kehidupan, meski tampak merah dalam marah. Dulu, riang dalam tawa, duka dalam derita, susah dan bahagia, sama-sama kita rasa. kini, tinggal aku sendiri, dalam diamku yang merindui, dengan masa yang silih berganti, yang tak kan mungkin kembali lagi. Harus ku relakan dan harus ku lepaskan, rasa yang mengikat jiwa, belengguan asmara kisah lama; aku dan dia.

Kurantai memory bersama kenangan. Hancur berderai kasih sepanjang zaman. Kau kibarkan dusta bernanah kehancuran. Segala keindahan kau tilang dengan kemunafikan. Kemarin sebuah kenangan terindah. Kita bersama mencipta cinta megah. Taupan dan badai tidak mampu menyanggah. Kita kiblatkan kasih penuh mujahadah. Hari ini tentu bukan kemarin. Aku mencari ssa dalam amalan. Aku tuai bahagia berteman impian. Kau masih berlari mencari kenangan. Kemarin sebuah kedewasaan diri. Alpha, khilaf, dhoif masih melingkari. Hari ini ku rubah hati dalam pekerti. karena Rabbuizzati bersemedi disanubari. Kasih abadi bukan milik kita!

30.12.2014