Untuk Sebuah Nama

Perempuan penghuni malam itu diam terpaku. Matanya sendu menatap gundukan tanah merah basah. Kemarin hari, di iringi derai gerimis, ia mengubur sebuah rasa untuk satu nama.

Malam semakin larut, dedaunan bergoyang kalut. Tubuh perempuan itu nampak menggigil hebat. Bukan karena dinginnya angin malam, tapi karena kerinduan yang semakin mendahsyat. Lirih merintih ia berucap, "Ternyata aku tak bisa melupakannya ... aku sangat merindukannya. Biarlah meskipun sunyi, kan hidup di dalam hati."

Lalu, di iringi derai airmata kerinduan, ia pun menggali gundukan tanah merah itu. Tak dihiraukan tatapan kecewa sang pohon kemboja yang sejak kemarin rutin menaburkan bunga-bunga di atas pusara sebuah rasa....., untuk sebuah nama.


 02092015