Perempuan penghuni malam itu diam terpaku. Matanya sendu menatap
gundukan tanah merah basah. Kemarin hari, di iringi derai gerimis, ia
mengubur sebuah rasa untuk satu nama.
Malam semakin larut,
dedaunan bergoyang kalut. Tubuh perempuan itu nampak menggigil hebat.
Bukan karena dinginnya angin malam, tapi karena kerinduan yang semakin
mendahsyat. Lirih merintih ia berucap, "Ternyata aku tak bisa
melupakannya ... aku sangat merindukannya. Biarlah meskipun sunyi, kan
hidup di dalam hati."
