Sebengis Kematian

Mengapa kau pergi dari hidupku, Ri? Sedang hatimu telah aku naungi. Tidak--kah kau berpikir diammu serupa bumi, tangisku bagaikan guntur yang gigilkan surga di langit tertinggi. Mengapa kau tinggalkan aku, sedang cintamu ada di sepenggal nyawaku? Hanya sebentar, sebantar saja! Tunggulah urusanku selesai.

Ri, hasrat telah mencibir kebimbangan, hingga desahnya meronta di sanubari. Gejolak jiwa-pun semakin menerka, kala kerlingan rindu kau tuah pada mindaku yang lara. Kemana aku harus bersandar, sedang dadamu penuh luka; sama.

Dengarlah suaraku kekasih, bait lara ini memanggil namamu. Ingatlah bahwa kau mungkin menemukan cinta yang lain, bila hatimu tak dengannya tak usah kau menerka; hatiku masih setia.
Pesona jiwa ini tercipta bukan sesaat, bahkan renungan-pun tak digubah oleh kesunyian. Kau tahu apa yang aku rasa? Sebengis kematian!

Detik ini tertahan di tasik dada, tambatkan aroma kamboja pada bentang rasa. Lalu..... Tungku harap--pun menyala, serupa rebah dalam peluk semesta, terhanyut tembang mesra melena; dalam kecup hangat yang tersemat "semoga kau bahagia"

22092016