Ri, hasrat telah mencibir kebimbangan, hingga desahnya meronta di sanubari. Gejolak jiwa-pun semakin menerka, kala kerlingan rindu kau tuah pada mindaku yang lara. Kemana aku harus bersandar, sedang dadamu penuh luka; sama.
Dengarlah suaraku kekasih, bait lara ini memanggil namamu. Ingatlah
bahwa kau mungkin menemukan cinta yang lain, bila hatimu tak dengannya
tak usah kau menerka; hatiku masih setia.Pesona jiwa ini tercipta bukan sesaat, bahkan renungan-pun tak digubah oleh kesunyian. Kau tahu apa yang aku rasa? Sebengis kematian!
Detik ini tertahan di tasik dada, tambatkan aroma kamboja pada bentang rasa. Lalu..... Tungku harap--pun menyala, serupa rebah dalam peluk semesta, terhanyut tembang mesra melena; dalam kecup hangat yang tersemat "semoga kau bahagia"
22092016