Kak..... Meskipun katanya itu romantis, aku tak mau makan sepiring berdua
denganmu. Itu tidak-kan kenyang. Nanti tubuh kita kurus kering. Tidak
enak di lihat, di negeri yang kaya-raya masih ada yang busung lapar
kekurangan makan. Tidak enak di lihat, di negeri agraris masih terlihat
tulang-tulang dada dan iga seperti penggaris. Tidak enak pula pada
pemerintah negeri ini yang telah
bersusah-payah mengimpor berton-ton beras.
Kak..... Bagiku, romantis itu
ketika kita berdua berjalan di atas pematang sawah. Lalu duduk
berdampingan di sebuah gubuk kecil di tengah luas persawahan. Memandang
rumbai-rumbai selendang kuning Sang Dewi Sri, melihat senyum bahagia
petani. Mendengar kicau riang burung-burung pipit bertengger di atas
padatnya bulir-bulir padi. Merasakan semilir angin yang sejuk
alami,meskipun tak sesejuk AC di dalam ruangan gedung-gedung tinggi.
Kak..... Romantis itu bukan makan nasi sepiring berdua,tapi (nanti) ketika
kita duduk berdua di pinggir sawah menyaksikan anak-anak kita riang
bermain lumpur sawah. Romantis di negeri agraris.. berpegangan tangan
dengan perut kenyang, memandang luas elok persawahan, kerbau-kerbau
membajak sawah, petani semangat mengayunkan cangkul, dan mendengar
senandung merdu puja-puji Sang Dewi Sri setiap hari.
Untukmu, lelaki(ku); Aku memang bersungguh-sungguh mencintaimu. Tapi
sungguh aku hanya punya cinta. Cinta yang memang tak bisa di makan ,tak
mengenyangkan badan. Cinta yang mungkin hanya menyenangkan jiwa, tak
selalu bisa menyenangkan raga.
Duhai lelaki(ku) katakan saja bila
kau tak cinta, aku akan belajar menerima dengan lapang dada. Bila pun kau
cinta, aku ingin bertanya. "Ikhlaskah kau menerima segala kekuranganku?"
Untukmu, lelaki(ku); Aku mencintaimu bukan karena apa yang di
pandang atau pun di sandang. Tetapi karena sesuatu yang sungguh tak bisa
kujabarkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasa dan dimengerti oleh jiwa.
Duhai lelaki(ku) aku memang mencintaimu sepenuh hati. Tetapi harta
berharga yang kupunya cuma puisi. Ahh.. aku lupa? Puisi pun tak bisa
di makan, tak mengenyangkan! (duh, puisiku bukan nasi, tapi kenapa menjadi
basi?)