Dik
... tak usah kau dengar kumbang-kumbang yang bergunjing tentang
kedekatan kita. Biarkan saja mereka bicara sesukannya tentang cinta yang
kita punya. Aku memang mencintaimu, tetapi cintaku padamu sama seperti
cintaku kepada gunung, sabana, dan hijau rimba. Cinta yang bersumber
dari kedamaian jiwa, bukan cinta yang bersumber dari kesenangan raga.
Aku mencintaimu sebagai sejiwa yang mencintai keindahan mayapada. Aku
pun tutup telinga, tak peduli apa kata mereka.
Dik ... hiraukan saja kumbang-kumbang yang mencibir hubungan kita
berdua. Biarkan saja mereka berceloteh apa saja tentang kasih-sayang
yang kita punya. Aku memang mengasihi dan menyayangimu sama seperti aku
mengasihi dan menyayangi edelweis, anggrek, dan para penghuni rimba
raya. Kasih-sayang yang tulus dari relung hati. Kasih-sayang yang hanya
ingin mengasihi dan menyayangi sesama makhluk ciptaan-Nya. Saling
menjaga, berbagi, dan menghormati seperti kepada saudariku sendiri,
seperti kepada adikku sendiri. Aku tak peduli cibiran mereka, aku hanya
peduli pada rimba hijau lestari, kasih-sayang kita pun semoga abadi
murni.
Dik ... abaikan saja berbagai tanggapan mereka tentang
kita. Biarkan saja mereka memberi sekehendak lidah tentang rindu yang
kita punya. Aku memang merindukanmu, sama seperti merindukan biru langit
dan lautan. Seperti merindukan senandung alam penentram sukma. Rindu
yang hadir dari hati yang mencintai dan menyayangi keindahan maha karya
Sang Pencipta. Rindu yang hadir menguat dari jarak nun jauh yang
memisahkan raga.
Ya, aku memang merindukanmu, dik. Rindu dari
kecocokan jiwa yang sama-sama mencintai sastra. Sastra tempat kita
mengungkapkan segala macam perasaan, tempat kita berkidung puja-puji
kepada mayapada dan Tuhan Sang Maha dari Segala Maha.
Dik ... aku
memang rindu bersua wajah denganmu, rindu seperti kerinduan bumi kepada
hujan. Dik ... biarkan saja jika mereka cemburu melihat Senjakala dan
Mayapada bersyair sejiwa tentang cinta di laman Temaram Mutiara Biruku.
||C08102015.