Women writers make for rewarding (and
efficient) lovers. They are clever liars to fathers and husbands; yet
they never hold their tongues too long, nor keep ardent typing fingers
still.
"Ayah" bisikku, merasakan hela napas sendiri di
tenggorokan. "Aku mencintaimu." tepat ketika aku yakin dia sedang tidur,
dan salah satu sudut mulutnya terangkat tersenyum "Aku tahu itu,"
gumamnya. "Selalu tahu itu." bisik lirihnya.
Ada bulan besar
bersinar di halaman, meninggalkan jejak perjalanan ke jalan dan
sepanjang jalan. Ghadeer mengambil tanganku. Begitu ia menggenggam
jariku, aku menyadari, ayah tidak pernah sekali memegang tanganku, dan
beberapa bagian dari diriku ingin Ghadeer untuk membiarkan ku pergi,
jadi aku tidak perlu merasa pikiran seperti itu. Mungkin terakhir kali
aku merasakan pundaknya dan rebahan tangannya tepat saat kelas 4 SD.
Aku terus menerus merindukan sosok itu. Pikirku, adik-adikku sangat
membutuhkan tangannnya untuk menuntun jalan benar: keyakinan agar aku
tak
membencinya.
Aku mulai beranjak dewasa, sudah berani
bermimpi. Menjadi profesor atau barangkali bergelar bahasa sastra dan
inggris. Itu tepat ketika umurku menginjak 13 tahun! Aku terus
mempertahankan mimpiku, ayah masih sama dingin dan panatik "Apakah aku
ini anak bosnya atau anak asuhnya?" begitulah selalu kekata itu bermain
dalam pikiranku, sesering-kali kutepiskan "Ah, mungkin ngurusin ke-2
adik laki-lakiku yang susah di atur." Aku harus terus meluruskan
tekatku, sebuah keyakinan bahwa aku akan menjadi orang besar banyak
uang.
Seorang Ayah sebaiknya menghormati wanita yang melahirkan
anak-anaknya. Hal ini karena dia memiliki harta terbesar dalam hidupnya.
Ayah mungkin telah pindah, tetapi anak-anak belum--jika kau tidak bisa
menjadi belahannya, maka setidaknya menjadi bijaksana. Siapa yang
mencintai anak-anakmu harus selalu menjadi seseorang yang kau mengakui
dengan kebaikan. Anak-anak bisa melihat segala sesuatu dan akan
mengikuti teladanmu.
***
Beberapa tahun kemudian, karena
hari, waktu semakin berjalan. Iyaaa ... aku telah pulang dari luar
negri. Sebuah tekat dan mimpi masih membenak, walaupun krikil-krikil
masalah masih saja menghantamku dan debu masih mengintai mataku; aku
masih bisa mengatasinya. Uangku banyak, apa yang aku mau bisa aku
dapatkan. Namun tidak! Dengan hijrahku ke Jakarta menyelesaikan
perguruan tinggiku. Seketika, entahlah ini yang aku sesalkan seumur
hidupku. Aku di masukkan ke universitas dan jurusan bukan mauku, ya
Tuhan..... harus bagaimana aku ini? 1 minggu bahkan selama 2 bulan
setelah aktifitas aku langsung ke kamar. Aku belum bisa menerima
kenyataan, bangkit ... bangkit ... bangkit! Entahlah.
"Bagi
seorang pria, ayahnya adalah keberadaan dirinya sendiri. Kehilangan
ayahnya berarti kehilangan dirinya sendiri. Dan bagi wanita ayahnya
adalah cahaya mimpinya kehilangan ayahnya berarti kehilangan mimpinya."
"Fathers never have exactly the daughters they want because they invent a notion a them that the daughters have to conform to."
01102016
