Aku
dan ibu, dua kayu yang sering beradu. Panas tapi tak membakar, tak saling
mematahkan. Pertengkaran kecil hanya karena aku kayu yang lebih keras
dan kaku. Sering beradu, tapi saling menyayangi, tak menimbulkan api. Ibu, kau tetaplah ibuku. Aku tetaplah anakmu, takut dengan amarahmu.
Aku dan puisi, sering bercerita tentang ibu. Tentang kedalaman rasa
terhadap sosok tercinta lewat coretan pena. Puisi, seberapa pun indahnya
puisi tentang ibu hanyalah puisi, menjadi kosong tak berarti bila tanpa
laku-lampah darma bakti.
Ibu dan puisi, ibuku tak mengerti puisi.
Ibuku hanya mengerti tentang kasih sayang dan cinta sejati untuk aku
anaknya. Ibuku tak perlu puisi untuk menumpahkan segala rasa yang ia
miliki. Pun, ibu tak butuh puisiku, ia hanya butuh secuil saja rasa sayang
dan perhatianku. Ibu....., ma'afkan aku, kayu yang sering menitikkan
airmatamu...
