Namamu Di..., Dion?

Entahlah siapa dia sebelum aku mengenalnya, lelaki berdasi dan kadangkala juga pakaianya rapih sering kujumpai saat shalat dzuhur berjama'ah di masjid (belakang tempat kerjaku). Dan ketikanya saat itu aku pernah berdoa meminta kepada-Nya "Ya Allah... bila Engkau berkehendak dan mewajibkan hambamu berpasang-pasangan jodohkanlah aku dengannya."

Ia adalah lelaki bersahaja
Asal dari Yogyakarta
Kewibawahan nampak dalam pundaknya
Senyum ramah tersungging polos di wajahnya
Dengan khas sepedah montornya, karismatik di pandang netra
Apakah ini sekedar kagum atau jatuhcinta?
Ah, aku rasa keduanya sama!

Setelah berseling waktu, berganti hari kita di hadapkan dengan tatap mata depan masjid karena sama-sama ingin memakai sepatu.
"Hay, habis shalat?" senyum ramah terurai darinya "Iya." sembari ku mengangguk, hwaaa tikanya jantungku berdegub kencang.

"Mbak, itu yang kerja di ** kan?." tanyanya padaku. "Iyaah, kalau Mas kerja di Bank sebelah kan?" ternyata memang kantor kita bersebelahan. Dia-pun tersenyum.

"Namaku Dion, kalau Mbak siapa namanya?." sembari memakai sepatunya.

"Aku, Ghadeer." jawabku balik "Yaa-udah, Mas! Saya duluan. Mau cari makan nanti keburu jam istirahat habis." pungkasku.

"Sekalian aja bareng sama saya?." sahutnya.

"Maksudnya, cari makanan bareng gitu." tuturku balik menegaskan.

"Iya..... Saya juga mau cari makan. Bagaimana kalau nasi padang di bawah play over? Di situ enak-enak lo." dengan nada meyakinkanku.

"Hmmm... ya udah deh!" kepasrahanku, di satu sisi-pun aku senang.

Pergumaman batinku terus di hantui tentangnya, kamipun akhirnya berdua bersahabat sama seperti lainya. Namun di lubuk hatiku yang paling palung ada namanya di setiap doaku. Sssssttt, aku di mutasi ke daerah plosok selama 6 bulan lamanya. Akupun fokus sama kerjaanku dan jarang chatan sama teman-teman lainya, maklum orang jualan pulsa susah di cari.

Akupun telah selesai menuntaskan pekerjaanku, hingga kembali keasal. Iaaaah aku sudah tak sabar ingin menjumpai Dion.

Baru saja turun dari mobil langsung di sapa Satpam Bank sebelah "Ghadeer.....! Kamu sudah pulang? Kemarin minggu, berarti menghadiri acara tunangan Dion dong?." huaaa langit-langitku terasa mau runtuh, hujan akan turun. Ekspetasiku terlalu tinggi ingin bersanding denganya. Begitu saja ia jatuhkan khayalanku berasa aku? Ah sudah tak bisa lagi (di)utarakan oleh kata-kata. Apalagi (di)baratkan.

"Ini adalah batas nalarku menembus kau; hitam. Netraku tertutup, aku terkantuk! Otak perih mengeja detik hingga ngilu. Dan aku: hanya katak yang melebarkan kepala di atas teratai, berharap langit akan menunduk dan bersidekap."

Di saat itu-pun aku tak berani melihat atau menyapanya. Aku takut ... malu! Satu hal yang aku sadari, cinta dalam diam itu menyakitkan. Namun seiring dengan keikhlasan hatipun menghadiri undangan pernikahannya.

Ini rasa akan baik-baik saja
Sebab tak ada satupun orang tahu tentang cintaku padanya
Aku hanya perlu terima sebagaimana mestinya
Tuhan itu tepat! Menjodohkan insannya

"Selamat ya, semoga bahagia menyertaimu Dion." itulah pertama kalinya aku menyentuh tanganya dan memandang lebih lama bola mata Dion, serasa kita saling bercakapan namun tak di sertai dengan suara.
Aku percaya, engkau-pun sama rasanya sepertiku.
TK-11112017