Lilin Kecil Tertiup Angin


Aku menyukai malam yang sunyi, sebab di situ untuk mimpi yang bahagia... kemudian muncul mengungkapkan pandangan pesonaku terukir. Apa mungkin memberkati mataku yang terbangun dari tidur? Seketika jemariku mulai menari kisah sahabatku yang belum berakhir. Baiklah sudah ingin memulai rasanya lentik jemariku memijit keyboard.

Biasa orang memanggilku Moely, atau juga Lilyn aieett ..., bukan karena aku waktu kecil suka makan es lilin lo itu karena nama kepanjanganku Moely Avelyn Abdullah. Sekarang ini aku berumur 26 tahun, aku cukup piawai dalam segala bidang yang terpenting adalah tekat kuat dan gigih. Karier-ku sukses, iyaah itu karena usahaku sedari kecil untuk meraihnya, segala upaya dan rencana telah aku bentuk serta pengorbananku tak menikmati masa muda asa mengendap dalam dada yang tak perah punah.

Aku suka hidup di negri orang, bukan karena aku pernah tinggal di Australia alasanya iyaa hanya suka aja. Sekarang aku sudah 3 tahun tinggal di Indonesia dan kerja di sini, namun sesuatu hal tak terduga terjadi padaku kali ini kerap ubun-ubunku terasa meledak tak tereda;


"Aku di ujung sepi
Kekasih hati telah pergi
Gelisah tiada henti
Kehancuran telah membuntuti
Ah, apa kegagalanku tepat hari ini?
Dimana teman, sahabat dan keluarga menyaksikan kebingungan hati
Sabar ... sabar itulah kecap mereka tiap kali
Aku bosan dengan semua ini
Hanya dengan hitungan sehari
Aku dibuat tiada mengerti
Uang, kerjaan, sahabat telah pergi
Mungkin Tuhan sedang menguji"

**
Jemariku berhenti, karena telphonku berbunyi, segeralah kuangkat dengan cepat. Nih orang tahu aja ya, kalau aku lagi nulis tentang dia! Oh, Moely ... Moely.

"Iyaaa ... hallo Lyn." kataku.

"Dindaa....." sahutnya lirih.

"Iya Lyn, dirimu lagi dimana sekarang?" tanyaku, karena rasa kekhawatiran.

"Aku di Cafe Graes" jawabnya dengan nada yang tak kumengerti.

"Ok Lyn, tunggu ... tunggu ya? Aku segera nyampe sana." takutku hal-hal yang tak teringinkan terjadi.

"Iyaa" seperti suara orang mabok kali ini.

Sssssttt-dah! Montorku di stater, engkol gak bisa bukan karena habis bengsin. Montor juga ada mogok-mogoknya. Kulihat jam tanganku tepat pukul 22:34 Wib tak kuambil pusing langsung aku lari, jaraknya juga gak terlalu jauh 500 meter-an.

Ternyata benar dugaanku, dia mabok! Kulihat dia sedang bicara dengan dua orang pria di mejanya. Aku pikir laki-laki itu sedang merayunya, segeralah kuhampiri.

"Lyn ... Lyn! Sadarlah dirimu mabok ya? Ayok kita pulang." sembari kutuntun, kupegang tangannya dan membawanya keluar.

"Maaf, Mbak! Dia belum bayar." cegah pelayan cafe.

"Iyaah ... ini Mas." langsung kusodorkan kartuku.

Aiesss! Berapa banyak yang dia minum hingga muntah dan tak bisa sanggup berjalan? Akhirnya aku gendonglah dia di punggungku. Karena beratnya 45, rasanya aku kuat. Sepanjang perjalanan dia ngoceh-ngoceh semuanya di bicarakan.

"Langit semakin gelap, dicat biru dengan warna biru, satu pukulan pada satu waktu, ke nuansa malam yang lebih dalam dan dalam. Kita butuh walau hanya LILIN KECIL (sahabat) untuk penerang yang tidak banyak kegelapan karena kegelapan itu penuh dengan suara orang lain di seberang ruangan, bahkan ketika malam hari terasa tebal dan tanpa bintang, mereka berdua akan berjalan pulang bersama dari sungai melihat siapa yang bisa bertahan paling lama
tanpa harus menyalakan senternya, tidak takut! Karena kadang-kadang di lapangan malam mereka berbaring telentang di tengah jalan dan melihat ke atas sampai bintang-bintang kembali dan ketika mereka melakukannya, akan meraih tangan untuk menyentuh dan melakukan pada saat itulah tertawa terbahak-bahak bagi diri tanpa beban. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul."


Sampailah kita di Apertemenku, dan kuletakkan ia di tempat tidur. Tidak mungkin aku membawanya pulang kerumah, bisa jadi nanti Ibunya yang sedang sakit-sakitan melihat anak bungsunya mabok akan berakibat fatal. Sembari kuganti pakainya kulihat wajahnya dalam-dalam. Tak terasa airmataku menetes, aku merasa bukan sahabat yang baik untuknya! Kemana kemarin saat dia membutuhkan-ku? Bukan ceramah atau ngoceh-ngoceh berucap 'sabar ... tabah, pasti ada hikmahnya' dia tak butuh kecap begituan, serasa akan menjatuhkan tarik ulur yang di ucap.

***
Segeralah kumatikan notebook-ku. Aku rasa ini juga aibku dan tak patut untuk di rangkai tulisan lalu akan mendapat tepuk tangan atau acungan jembol. Lalu pembaca berkata 'Hebat Dinda, setia dan pengertian dengan sahabatnya' aku-pun menangis turut menyesal dan akan kuperbaiki lagi persahabatan ini.

"Friendship is the hardest thing in the world to explain. It's not something you learn in school. But if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything."

14032018