Risalah Luka

Di sini-di kamarku, bosan terasa... gundah. Hatiku terus riuh! seiring berdiskusi tanya jawab sendiri seakan gaduh 'Aku harus menerima ketetapan-Nya, sepahit apapun harus di jalani, kusaring, kurengguk walau sepahit empedu yakin belatipun masih tersisah walau tak sesakit jarumi, aku tak boleh kalah ini bukan akhir dari segala risalah ... ini bukan akhir hidupku ... aku harus melanjutkannya ... aku tak boleh kalah' begitulah yang kerap gaduh kepala terasa pecah. Aku di ujung sepi, merintih. Aa--chh apa.... Aku mengeluh? Tidak!

Sesekali aku berdiri di samping jendela, kukepalkan tanganku memohon hujan akan datang. Mohon ... mohon kiranya akan menyirami hati yang gersang. Ternyata kali ini yang aku harapkan terkabulkan, kuhitung tik ... tik percikannya di kaca jendela, hujan-pun datang lebat hingga tak terbilang. Aku-pun keluar menjerit sekuat tenggorokan, pada saat itu kuluahkan amarahku sembari mengutarakan padanya 'Tuhan aku tahu Engkau ada, akankah keajaiban dan dunia berubah? Tidak jawabku lagi dengan terang. Aku selalu menjalankan perintah-Mu dan meninggalkan larangan-Mu namun di balik semua itu aku menukar keinginanku, tapi kenapa tak Kau kabulkan Tuhan? Aku kurang bersyukur, jawabku tenang. O' aku tahu apakah ibadahku tak ikhlas kepada-Mu? Sabar jawabku, buktinya hujan yang kau minta telah datang. Ah, apa? Aku tidak memikirkan seberapa naif, buruk dan piciknya diri ini hingga banyak kebaikanku harus kuhitung-hitung. Jeritanku semakin menjadi, ini adalah penyesalanku, itu sebabnya Tuhan, Engkau kabulkan hujan kali ini bertandang.' Benar!

Setidaknya aku telah mengutarakan semua risalah lukaku pada-Nya, sebelum dunia benar-benar berakhir kutemui. Aku-pun kemudian bergegas teduh membersihkan diri dan penuh rasa kusesali 'Kukatakan sungguh-sungguh kurendahkan hargadiriku... aku malu padamu Tuhan, aku mengeluh padahal hidupku masih seujung kuku yang kujalani.' Sembah sujud dan tobatku Tuhan, aku harus belajar lagi. Tak sekali!

09032018