Di sini-di kamarku, bosan terasa... gundah. Hatiku terus riuh!
seiring berdiskusi tanya jawab sendiri seakan gaduh 'Aku harus menerima
ketetapan-Nya, sepahit apapun harus di jalani, kusaring, kurengguk walau
sepahit empedu yakin belatipun masih tersisah walau tak sesakit jarumi,
aku tak boleh kalah ini bukan akhir dari segala risalah ... ini bukan
akhir hidupku ... aku harus melanjutkannya ... aku tak boleh kalah'
begitulah yang kerap gaduh kepala terasa pecah. Aku di ujung sepi, merintih. Aa--chh apa.... Aku mengeluh? Tidak!
Sesekali aku berdiri di samping jendela, kukepalkan tanganku memohon
hujan akan datang. Mohon ... mohon kiranya akan menyirami hati yang
gersang. Ternyata kali ini yang aku harapkan terkabulkan, kuhitung tik
... tik percikannya di kaca jendela, hujan-pun datang lebat hingga tak
terbilang. Aku-pun keluar menjerit sekuat tenggorokan, pada saat itu
kuluahkan amarahku sembari mengutarakan padanya 'Tuhan aku tahu Engkau
ada, akankah keajaiban dan dunia berubah? Tidak jawabku lagi dengan
terang. Aku selalu menjalankan perintah-Mu dan meninggalkan larangan-Mu
namun di balik semua itu aku menukar keinginanku, tapi kenapa tak Kau
kabulkan Tuhan? Aku kurang bersyukur, jawabku tenang. O' aku tahu apakah
ibadahku tak ikhlas kepada-Mu? Sabar jawabku, buktinya hujan yang kau
minta telah datang. Ah, apa? Aku tidak memikirkan seberapa naif, buruk
dan piciknya diri ini hingga banyak kebaikanku harus kuhitung-hitung.
Jeritanku semakin menjadi, ini adalah penyesalanku, itu sebabnya Tuhan,
Engkau kabulkan hujan kali ini bertandang.' Benar!
Setidaknya aku
telah mengutarakan semua risalah lukaku pada-Nya, sebelum dunia
benar-benar berakhir kutemui. Aku-pun kemudian bergegas teduh
membersihkan diri dan penuh rasa kusesali 'Kukatakan sungguh-sungguh
kurendahkan hargadiriku... aku malu padamu Tuhan, aku mengeluh padahal
hidupku masih seujung kuku yang kujalani.' Sembah sujud dan tobatku
Tuhan, aku harus belajar lagi. Tak sekali!
09032018
