Mulyani Puspita Sari


M
bak, entah mengapa hari ini aku sedang mengingatmu... iya! Merindumu ialah jalan menuju perjumpaan pada labirin.

Untuk selanjutnya aku mengalami kesepian
L
orong gelap, yang tak kunjung bercahaya kecuali harapan di dada terus menyala-nyala ingin berjumpa.
Yakinku meski sekedar kata tak bermakna, menyapamu hanya sekata adalah kebahagiaan.
A
dalah kelopak pagi yang merekah ketika goyahnya jemari ingin menyapa.
N
amun gemuruh riuh rinai hujan bertamu.
I
ni adalah tintaku, alamat yang semestinya yang kau beri kabar.


Puisi suatu kendaraan yang paling tepat menujumu.
Utara ialah jalanmu

S
elatan tempat persingghanku...
Pupuslah harapan kita untuk bertemu.
Iring-iring dedoa telah mengudara tepatkah menujumu Mbak?
Tutuplah matamu dan tarik napas, lalu hembuskan... apa yang ada dibenakmu?
Ahhhh..... Aku bukan hendak mengeluh akan meratapi perjumpaan kita yang entah.

Sebelum menutup ini dengan salam terakhir
Aku titipkan serpihan rasa dari masa laluku (engkau yang tahu baik dan burukku)
Renda harap selalu melekat pada keinginan
Inginku sekali lagi memelukmu, baik-baik dan bahagia di sana Mbak, kecup dan sayangku.

LM-31072019