Tentu, kau masih ingat bukan, apa yang menjadi momen teristimewa dari
20 July bagiku? Itu adalah hari lahirku, yang kusebut sebagai 'Hari
Besar Kenangan' Aku tahu akan terlewati namun demi pertanggung-jawabanku
terhadap kenangan, terhadap apa yang dulu, di senja yang tabah aku
bergumam. Dan kali ini akan kutunaikan kewajibanku apakah itu? Hanya aku
dan Tuhanlah yang tahu...Selamat ulang tahun berbingkai rapal-rapal do'a ditujukan oleh lelakiku (suami) dan sahabat-sahabat untukku, tapi pada peringatan hari besar kenanganku kali ini, ada yang istimewa dan kado terindah dari-Nya untukku: kan hadir malaikat mungil kedunia.
Kau tahu? Hanya monolog ini sebagai caraku memperingati hari lahirku,
menjadi puisi hidupku yang seluruh imajinasinya berasal dari ingatanku
tentangmu, puisi hidupku yang setiap nuansanya menyampaikan isyarat
tentang kenangan yang mutlak dan selalu.
Ya Allah hari ini adalah hari-ku, bagi hamba sang pemilik raga. Penuh ceria dan penuh tawa, bahagia sungguh suasana terbawa. Segenap handai taulan meluruh kata bak taburan bunga, harumnya menyergap bumi hati sampai ke langit jiwa, wanginya keluar menyeruak di antara suara dan aksara: terpekur hamba di bawah kaki sang Penguasa.
Waktu berlalu tidak terasa telah berkurang jatah usia. Tahunpun sudah berganti masa jasadpun makin dekat binasa, angka umur telah bertambah sadarlah diri sebagai hamba. Amal yang baik terus ditimba agar mendapat surga di damba.
Wahai Sang Penguasa hidup dan mati hamba, hari ini aku datang bersimpuh menyapa. Merenungkan anugerah-Mu akan umur yang tersisa, Engkau manjakan hamba dengan limpahan kasih dan cinta. Betapa tinggi angan hamba dalam kehidupan fana, menebar mimpi-mimpi umpama indahnya fatamorgana. Namun hamba hanyalah jejak raga yang berlumur dosa, yang sia-sia gugur menguburkan dibalik segala peristiwa.
Wahai Sang Penguasa hidup dan mati hamba. Mohon ampun hamba atas segala kelalaian dan dosa, jangan izinkan nafsu dunia membutakan mata; yang akan membuat-Mu marah dan murka.
Hari ini hamba bersimpuh mengharap iba, berkat-Mu yang melimpah jawablah akan munajad hamba. Tuntunlah hamba mengejar cita-cita agar kelak sukses, bahagia bersama keluarga, anak suami tercinta.
Aamiin
LM-11072019
Ya Allah hari ini adalah hari-ku, bagi hamba sang pemilik raga. Penuh ceria dan penuh tawa, bahagia sungguh suasana terbawa. Segenap handai taulan meluruh kata bak taburan bunga, harumnya menyergap bumi hati sampai ke langit jiwa, wanginya keluar menyeruak di antara suara dan aksara: terpekur hamba di bawah kaki sang Penguasa.
Waktu berlalu tidak terasa telah berkurang jatah usia. Tahunpun sudah berganti masa jasadpun makin dekat binasa, angka umur telah bertambah sadarlah diri sebagai hamba. Amal yang baik terus ditimba agar mendapat surga di damba.
Wahai Sang Penguasa hidup dan mati hamba, hari ini aku datang bersimpuh menyapa. Merenungkan anugerah-Mu akan umur yang tersisa, Engkau manjakan hamba dengan limpahan kasih dan cinta. Betapa tinggi angan hamba dalam kehidupan fana, menebar mimpi-mimpi umpama indahnya fatamorgana. Namun hamba hanyalah jejak raga yang berlumur dosa, yang sia-sia gugur menguburkan dibalik segala peristiwa.
Wahai Sang Penguasa hidup dan mati hamba. Mohon ampun hamba atas segala kelalaian dan dosa, jangan izinkan nafsu dunia membutakan mata; yang akan membuat-Mu marah dan murka.
Hari ini hamba bersimpuh mengharap iba, berkat-Mu yang melimpah jawablah akan munajad hamba. Tuntunlah hamba mengejar cita-cita agar kelak sukses, bahagia bersama keluarga, anak suami tercinta.
Aamiin
LM-11072019
